Feature

Semende Negeri Tunggu Tubang


ilustrasi

Keelokan daerah Semende terus memanjakan mata saya. Hujan rintik-rintik semakin melarutkan pikiran, karena dari arah Bukit Balai dan Bukit Barisan, hamparan kabut tipis menghampiri. Kabut putih itu memperlihatkan bayangan samar-samar perbukitan dan diselingi dengan bayangan hitam rumah panggung serta tengkiang di tengah sawah. Tengkiang atau lumbung padi memang jadi satu kesatuan dengan sawah dan dangau (rumah/pondok di sawah). Sebuah simbol kesejahteraan masyarakat Semende.

Terpaan angin dan kabut tipis menerpa lembut di wajah. Saya merapatkan jaket menyelimuti tubuh dan mempererat sebo (kupluk) di kepala. “Segelas kopi Semende yang terkenal itu, tentulah akan menjadi hidangan nikmat di sore ini,” lamunan itu melintas dipikiran. Saya tak perlu menunggu lama, begitu turun dari mobil dan masuk ke rumah Kepala Desa, kopi panas itu telah terhidang. Lupa akan basa-basi, setengah gelaspun ludes ke tenggorokan. Tak lama kemudian, nasi putih panas, goreng ikan mas, sambal terung Belande, lalapan umbut rotan, hadir dihadapan. Untuk sementara, program diet terlupakan, godaan lauk dan nasi harum yang masih berasap, terlalu sayang untuk dilewatkan.

“Kendati sekarang tidak musim panen, namun persediaan beras tetap ada, tengkiang masih terisi, karena ini adalah rumah Tunggu Tubang,” ujar sang Kades di sela-sela suapan nasi yang entah ke berapa kali sudah masuk mulut saya.

Tunggu Tubang, ya itulah istilah yang sering terdengar. Ternyata ini adalah sebutan untuk anak perempuan tertua dalam sebuah keluarga. Adat Semende punya ciri khas tersendiri, dimana pola pewarisan harta, terutama sawah dan rumah, jatuh pada anak perempuan tertua. Seorang Tunggu Tubang diberi kewenangan dan tanggung jawab untuk mengelola dan mengurus harta warisan keluarga. Hanya anak perempuan tertua, selain itu harus keluar untuk mencari nafkah.