Feature
Semende Negeri Tunggu Tubang
- Yenrizal
- 27 Sep 2021
- dilihat 360
ilustrasi
“Tak ada orang Semende yang tidak punya tunggu tubang, itu adalah identitas,” ujar Syaiful, seorang warga yang begitu setia menemani sekaligus memberi penjelasan seputar adat Semende. Adanya tunggu tubang pula yang menyebabkan sawah dan rumah di Semende tetap lestari, tidak hilang dan tidak punah. Tunggu Tubang adalah simbol Semende sekaligus simbol kekuasaan di masyarakat. Orang menjadi tunggu tubang adalah penguasa atas harta warisan, walaupun itu adalah kuasa kelola dan kuasa manfaat. Kepemilikan harta tetap bersama, namun pengelolaan ada pada tunggu tubang. Rumah yang ditempatinya ibaratkan “kantor” bagi keluarga tersebut, tempat berkumpul pada hari-hari tertentu.
Sebuah konsep adat yang unik. Dari sekian banyak daerah di Sumatera Selatan yang sudah saya jalani, hanya Semende yang punya adat berbeda. Sekilas saya teringat pada adat di Minangkabau dengan sistem matrilinealnya. Mirip walaupun tidak sama.
Semende, ibarat sebuah negeri dongeng. Disitu ada perbukitan yang diselimuti kabut, lurah-lurah dan jurang dalam berliku, hamparan kebun kopi yang memancarkan warna hijau dan merah, kuningnya padi di musim panen, deretan sawah berjenjang yang mempesona, kokohnya tengkiang di sebelah dangau, kecipak air dari pancuran di sela pematang sawah, dan senyum ramah warga setempat. Di malam hari, dari sela-sela gelungan kain sarung penahan dingin, sayup-sayup terdengar dentingan gitar dan alunan suara remaja melantunkan syair Batang Hari Sembilan. Ah, gitar tunggal, musik yang selama ini hanya saya saksikan lewat TV.
Itulah negerinya para Tunggu Tubang. Negeri elok di pinggiran Sumatera Selatan. Terpikir oleh saya, jika selama ini dikenal Puncak di Bogor sebagai kawasan wisata, ataupun Pagar Alam dengan Gunung Demponya, kenapa Semende terabaikan dari pengetahuan kita. Suatu saat saya pasti mengulang kembali, menikmati kopi dan hidangan para Tunggu Tubang, sekaligus meresapi terpaan kabut dari Bukit Barisan dan memanjakan mata serta mengagumi karunia Tuhan saat memandang lekuk liku bukit dan jurang, melihat apakah tengkiang masih berdiri kokoh, dan apakah gitar tunggal masih berdenting di keheningan malam. Suatu saat nanti.
Palembang - Clouds



0 Komentar