Feature

Semende Negeri Tunggu Tubang


ilustrasi

Apabila kepada kita ditanyakan tentang Semende (sering disebut Semendo), tentu yang terlintas adalah cita rasa kopi yang harum dan nikmat. Tak salah memang, Semende adalah salah satu produsen kopi terbesar di Sumatera Selatan, di samping Pagar Alam dan Lahat. Akan tetapi, apakah Semende hanya sekedar kopi saja? Tidak, banyak hal lain yang bisa kita ceritakan tentang negeri di atas bukit ini, keelokan alamnya, keunikan adat, keharuman berasnya, dan seabreg lagi cerita menarik tentang daerah ini. Catatan berikut mencoba menggambarkan beberapa hal menarik yang mungkin selama ini belum terpublikasikan.

Siang itu, (21/2/14) minibus yang saya tumpangi melaju membelah jalanan aspal di sela-sela hamparan sawah. Awalnya, suasana masih terasa ramai, lalu lalang kendaraan besar dan kecil, sering melintas. Selepas dari jalan lintas Sumatera di Muara Enim, kemudian Tanjung Enim, dan selanjutnya memasuki daerah Simpang Meo, jalanan mulai terasa sepi. Muara Meo, atau lazim disebut Simpang Meo adalah perhentian terakhir, sebelum memasuki Semende, negeri di atas bukit, di ujung Provinsi Sumatera Selatan.

Perjalanan dari Palembang hingga Simpang Meo sebenarnya cukup melelahkan, karena jarak yang cukup jauh. “Normalnya sekitar 5 jam kalau dihitung dari Palembang,” ujar sopir travel yang saya tumpangi. “Sampai di Pulau Panggung nanti sekitar satu jam lagi lah,” lanjutnya sambil tetap asyik memutar stir mobil. Saya melirik arloji, memperkirakan bahwa sekitar jam 15.00 WIB sore ini saya sudah berada di Semende. Masih sekitar 1 jam lagi.

Apa yang dikatakan sang sopir ternyata memang benar. Pukul 15.10 WIB, deretan rumah panggung yang bagian bawahnya dijadikan toko, tampak berjejer di pinggir jalan. Di bagian lain tampak kios-kios, semacam pasar di pedesaan. Kalangan, orang sini menyebutnya. Inilah Pulau Panggung, daerah paling ramai di Semende, sekaligus daerah transit utama bagi masyarakat. Dari desa ini, penumpang akan terpecah. Ada yang melanjutkan ke Semende Darat Tengah dan Ulu, ada juga yang hanya sampai Pulau Panggung ataupun meneruskan ke Semende Darat Laut. Saya sendiri meneruskan ke Semende Darat Tengah.

Jalanan yang dilalui makin berliku. Sang sopir terlihat terampil memainkan stir di jalanan sempit yang diapit oleh perbukitan dan jurang-jurang. Hampir tak ada jalan lurus dan mendatar. Mata saya dimanjakan oleh hamparan pepohonan kopi dan deretan sawah bertingkat, khas daerah pegunungan. Dari catatan saya, daerah tertinggi di Semende berada di ketinggian 1.800 m dpl. Sejuk atau lebih tepatnya dingin, itulah udara yang menerpa kulit.

Perjalanan sudah memasuki jantung Semende, sebelum sampai ke dusun terjauh di Semende Darat Tengah, yaitu Desa Swarna Dwipe. Sepanjang mata memandang, yang terlihat adalah panorama alam pegunungan yang luar biasa. Deretan kebun kopi, sawah tebing, gemericik air yang teramat jernih, kolam ikan, ibu-ibu yang berjalan sambil menggendong kinjar (keranjang rotan), para lelaki yang menyandang gerahang (parang), dan rumah panggung, adalah suasana-suasana yang tak bisa dilewatkan. Dari kaca mobil, kamera saku saya tak henti-hentinya menjepret.

“Jika datang kesini di bulan September, maka di kiri kanan kita akan disuguhkan dengan hamparan padi yang menguning dan masyarakat yang disibukkan dengan menangkapi ikan di kolam-kolam sekitar sawah,” suara sopir mengusik keasyikan menatap pemandangan. Belakangan saya tahu, September-Oktober adalah masa panen raya di Semende. Masyarakatnya menyebutnya musim ngetam, setelah itu dilanjutkan dengan musim bagok, yaitu masa setelah panen. Di saat bagok inilah keramaian banyak dilangsungkan. Disinilah masanya menikahkan anak, berpesta setelah padi berhasil dipanen.

Padi memang salah satu tanaman utama di Semende, selain kopi. Dengan struktur daerah yang berbukit-bukit, padi ditanam dengan pola sawah tebing, bertingkat-tingkat seperti tangga. Jenis padi utama yang ditanam disini adalah jambat teghas, bibit lokal berwarna putih sedikit keabu-abuan yang usia tanamnya sekitar 6 bulan. Bersawah dilakukan sekali setahun, dan tidak pernah ada perubahan sejak jaman puyang dulu. “Kenapa sekali setahun? Karena begitulah tradisi disini. Jangan coba-coba menanam bibit yang bisa dua kali setahun. Tidak akan berhasil,” ujar salah seorang warga. Ketika saya coba telaah lebih lanjut, ternyata ini bukan sekedar tradisi saja, namun pengetahuan dasar warga mengenai alamnya. Ini berkaitan dengan cuaca, angin, hujan, serta hama yang mengancam.

Keelokan daerah Semende terus memanjakan mata saya. Hujan rintik-rintik semakin melarutkan pikiran, karena dari arah Bukit Balai dan Bukit Barisan, hamparan kabut tipis menghampiri. Kabut putih itu memperlihatkan bayangan samar-samar perbukitan dan diselingi dengan bayangan hitam rumah panggung serta tengkiang di tengah sawah. Tengkiang atau lumbung padi memang jadi satu kesatuan dengan sawah dan dangau (rumah/pondok di sawah). Sebuah simbol kesejahteraan masyarakat Semende.

Terpaan angin dan kabut tipis menerpa lembut di wajah. Saya merapatkan jaket menyelimuti tubuh dan mempererat sebo (kupluk) di kepala. “Segelas kopi Semende yang terkenal itu, tentulah akan menjadi hidangan nikmat di sore ini,” lamunan itu melintas dipikiran. Saya tak perlu menunggu lama, begitu turun dari mobil dan masuk ke rumah Kepala Desa, kopi panas itu telah terhidang. Lupa akan basa-basi, setengah gelaspun ludes ke tenggorokan. Tak lama kemudian, nasi putih panas, goreng ikan mas, sambal terung Belande, lalapan umbut rotan, hadir dihadapan. Untuk sementara, program diet terlupakan, godaan lauk dan nasi harum yang masih berasap, terlalu sayang untuk dilewatkan.

“Kendati sekarang tidak musim panen, namun persediaan beras tetap ada, tengkiang masih terisi, karena ini adalah rumah Tunggu Tubang,” ujar sang Kades di sela-sela suapan nasi yang entah ke berapa kali sudah masuk mulut saya.

Tunggu Tubang, ya itulah istilah yang sering terdengar. Ternyata ini adalah sebutan untuk anak perempuan tertua dalam sebuah keluarga. Adat Semende punya ciri khas tersendiri, dimana pola pewarisan harta, terutama sawah dan rumah, jatuh pada anak perempuan tertua. Seorang Tunggu Tubang diberi kewenangan dan tanggung jawab untuk mengelola dan mengurus harta warisan keluarga. Hanya anak perempuan tertua, selain itu harus keluar untuk mencari nafkah.

“Tak ada orang Semende yang tidak punya tunggu tubang, itu adalah identitas,” ujar Syaiful, seorang warga yang begitu setia menemani sekaligus memberi penjelasan seputar adat Semende. Adanya tunggu tubang pula yang menyebabkan sawah dan rumah di Semende tetap lestari, tidak hilang dan tidak punah. Tunggu Tubang adalah simbol Semende sekaligus simbol kekuasaan di masyarakat. Orang menjadi tunggu tubang adalah penguasa atas harta warisan, walaupun itu adalah kuasa kelola dan kuasa manfaat. Kepemilikan harta tetap bersama, namun pengelolaan ada pada tunggu tubang. Rumah yang ditempatinya ibaratkan “kantor” bagi keluarga tersebut, tempat berkumpul pada hari-hari tertentu.

Sebuah konsep adat yang unik. Dari sekian banyak daerah di Sumatera Selatan yang sudah saya jalani, hanya Semende yang punya adat berbeda. Sekilas saya teringat pada adat di Minangkabau dengan sistem matrilinealnya. Mirip walaupun tidak sama.

Semende, ibarat sebuah negeri dongeng. Disitu ada perbukitan yang diselimuti kabut, lurah-lurah dan jurang dalam berliku, hamparan kebun kopi yang memancarkan warna hijau dan merah, kuningnya padi di musim panen, deretan sawah berjenjang yang mempesona, kokohnya tengkiang di sebelah dangau, kecipak air dari pancuran di sela pematang sawah, dan senyum ramah warga setempat. Di malam hari, dari sela-sela gelungan kain sarung penahan dingin, sayup-sayup terdengar dentingan gitar dan alunan suara remaja melantunkan syair Batang Hari Sembilan. Ah, gitar tunggal, musik yang selama ini hanya saya saksikan lewat TV.

Itulah negerinya para Tunggu Tubang. Negeri elok di pinggiran Sumatera Selatan. Terpikir oleh saya, jika selama ini dikenal Puncak di Bogor sebagai kawasan wisata, ataupun Pagar Alam dengan Gunung Demponya, kenapa Semende terabaikan dari pengetahuan kita. Suatu saat saya pasti mengulang kembali, menikmati kopi dan hidangan para Tunggu Tubang, sekaligus meresapi terpaan kabut dari Bukit Barisan dan memanjakan mata serta mengagumi karunia Tuhan saat memandang lekuk liku bukit dan jurang, melihat apakah tengkiang masih berdiri kokoh, dan apakah gitar tunggal masih berdenting di keheningan malam. Suatu saat nanti.

Tulisan ini sudah dimuat di halaman Panorama pada HU Berita Pagi, Minggu 1 Juni 2014

Dr. Yenrizal, M.SI