Feature
Semende Negeri Tunggu Tubang
- Yenrizal
- 27 Sep 2021
- dilihat 360
ilustrasi
Jalanan yang dilalui makin berliku. Sang sopir terlihat terampil memainkan stir di jalanan sempit yang diapit oleh perbukitan dan jurang-jurang. Hampir tak ada jalan lurus dan mendatar. Mata saya dimanjakan oleh hamparan pepohonan kopi dan deretan sawah bertingkat, khas daerah pegunungan. Dari catatan saya, daerah tertinggi di Semende berada di ketinggian 1.800 m dpl. Sejuk atau lebih tepatnya dingin, itulah udara yang menerpa kulit.
Perjalanan sudah memasuki jantung Semende, sebelum sampai ke dusun terjauh di Semende Darat Tengah, yaitu Desa Swarna Dwipe. Sepanjang mata memandang, yang terlihat adalah panorama alam pegunungan yang luar biasa. Deretan kebun kopi, sawah tebing, gemericik air yang teramat jernih, kolam ikan, ibu-ibu yang berjalan sambil menggendong kinjar (keranjang rotan), para lelaki yang menyandang gerahang (parang), dan rumah panggung, adalah suasana-suasana yang tak bisa dilewatkan. Dari kaca mobil, kamera saku saya tak henti-hentinya menjepret.
“Jika datang kesini di bulan September, maka di kiri kanan kita akan disuguhkan dengan hamparan padi yang menguning dan masyarakat yang disibukkan dengan menangkapi ikan di kolam-kolam sekitar sawah,” suara sopir mengusik keasyikan menatap pemandangan. Belakangan saya tahu, September-Oktober adalah masa panen raya di Semende. Masyarakatnya menyebutnya musim ngetam, setelah itu dilanjutkan dengan musim bagok, yaitu masa setelah panen. Di saat bagok inilah keramaian banyak dilangsungkan. Disinilah masanya menikahkan anak, berpesta setelah padi berhasil dipanen.
Padi memang salah satu tanaman utama di Semende, selain kopi. Dengan struktur daerah yang berbukit-bukit, padi ditanam dengan pola sawah tebing, bertingkat-tingkat seperti tangga. Jenis padi utama yang ditanam disini adalah jambat teghas, bibit lokal berwarna putih sedikit keabu-abuan yang usia tanamnya sekitar 6 bulan. Bersawah dilakukan sekali setahun, dan tidak pernah ada perubahan sejak jaman puyang dulu. “Kenapa sekali setahun? Karena begitulah tradisi disini. Jangan coba-coba menanam bibit yang bisa dua kali setahun. Tidak akan berhasil,” ujar salah seorang warga. Ketika saya coba telaah lebih lanjut, ternyata ini bukan sekedar tradisi saja, namun pengetahuan dasar warga mengenai alamnya. Ini berkaitan dengan cuaca, angin, hujan, serta hama yang mengancam.
Palembang - Clouds



0 Komentar