Cerpen

PILAKUIK


ilustrasi

“Ha…ha…buyung, buyung. Babi itu paling takut sama manusia, Waang cukup berteriak saja kuat-kuat mengusir babi itu, atau menyanyi sajalah kuat-kuat, pasti lari dia itu. Tak perlu waang turun, dari dangau saja,” kata bapak. Tapi setelah beberapa menit berteriak, sorotlah dengan senter ke semua sudut, setelah itu pasti babinya keluar, maka pasang lagi Pilakuiknya. “Ah cukup menantang juga ini,” pikirku. Sebenarnya aku tak terlalu takut dengan babi hutan, biasa saja karena sudah sangat sering kulihat makhluk ini, bahkan pernah kujumpai sampai 5 ekor sedang berkubang di bancah ladang belakang. Hanya saja aku sedikit ngeri kalau mengingat tetanggaku yang pernah diseruduknya.

Bapak dulu pernah berpesan, jika kamu dikejar babi hutan, larilah ke kiri-kanan, jangan lari lurus ke depan. “Babi itu larinya lurus saja, susah dia belok, makanya kalau dikejar, larilah dengan belok kiri-kanan,” pesan Bapak.

Akhirnya seluruh Pilakuik sudah terpasang, seiring sayup sayup azan magrib mulai terdengar dari surau di kampung. Kamipun bergegas mengemas barang. Sebelum pulang, Bapak menghidupkan Lampu Togok yang tergantung di dinding Dangau. Lampu itu ditaroknya disebuah tempat khusus dari buluh di halaman Dangau. Lampu Togok ini terbuat dari bekas kaleng susu, dilubangi kira-kira sebesar kelingking dan diberi sumbu dari kain bekas. Kaleng kemudian diisi minyak tanah. Saat sumbu dihidupkan, asap hitam pekat menyebar kemana-mana. Aku sangat terbiasa dengan lampu ini, karena dirumah juga memakai itu, walau sesekali Bapak juga menghidupkan Strom King. Strom King adalah penerangan paling bagus kala itu, karena listrik tak masuk kedesaku.

Selepas Isya, sesudah menyelesaikan makan malam, bapak sudah bersiap-siap. Kain sarung, gula kopi, lading, senter berbaterai 3, dan tentu saja sebungkus Indo Jaya terselip dikantong. Rokok putih itu seakan tak pernah lepas dari bibirnya. Aku juga mengikuti, menyiapkan sarung dan membelitkan ke leher. Malam ini adalah malam minggu, jadi aku bisa ikut, karena besok tak sekolah. Kami nak manggaro (menjaga) ladang kacang yang baru ditanam malam ini. Malam ini akan kupasang kuping baik-baik, aku ingin duluan yang berteriak kalau Pilakuik berdentum.