Feature
Mencari Api di Gelebak Dalam
- Yenrizal
- 05 Oct 2021
- dilihat 283
ilustrasi
Sore itu, hampir menjelang magrib, langit berwarna kemerahan semburat dari sisi langit sebelah barat. Cahayanya berpendar dan sedikit keabu-abuan, menyelinap dari sela-sela rumah panggung penduduk. Tak biasanya, hembusan angin tak terasa sejuk, tapi kering dan cenderung panas. Bulir-bulir hitam serupa debu tampak berseliweran, berbaur dengan panasnya tiupan angin. Beberapa ibu-ibu menggelungkan jilbabnya, melindungi mata dari perihnya udara, menutupi mulut dan hidung agar terhindar dari segala kotoran yang beterbangan.
Gumpalan asap berwarna hitap pekat tampak membumbung di ujung kebun karet. Sesekali jilatan lidah api menjulur ke atas. Asap hitam ini bagai sebuah bayangan merah keabuan diterpa cahaya matahari. Beberapa warga berusaha mendekati sumber api, menggunakan alat seadanya, potongan kayu, bambu, memukul-mukul ke sumber api. Sedikit lidah api padam, hanya sekejap, api kembali membesar. Tak ada air yang digunakan karena memang sumber air sudah kering. Deru helikopter, yang sedari siang lalu lalang menyemburkan air dari atas, water boombing, sudah lama berlalu. Api makin membesar, menjilati ranting-ranting kering, semak belukar, kayu yang masih hidup, semua yang didekatnya.
“Sejak kemarau mulai Juni lalu, kebakaran jadi langganan disini. Ada yang karena warga buka lahan baru, ada juga yang tak diketahui, tiba-tiba saja api sudah muncul,” ujar Hendri Sani, anak muda yang sekarang didapuk sebagai Kepala Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan, Banyuasin, Sumatera Selatan, sembari merapatkan masker kehidungnya. Ia bercerita, kemarau ini memang menyulitkan. Lahan jadi kering, rawa-rawa tak berair lagi, gambut bagai jadi bahan bakar di bawah tanah, sedikit saja api muncul, niscaya kebakaran akan membesar.
Di ujung dusun, api semakin jadi, sepertinya tak ada lagi yang bisa dilakukan warga, pasrah dan beberapa dari mereka hanya menonton dari kejauhan. Sementara itu di sisi lain, tampak petugas-petugas pemadam kebakaran masih berupaya menarik dan menyedot air dari Sungai Komering. Semua bagai menggarami air laut, tak ada hasilnya.
Palembang - Clouds



0 Komentar