Feature

Mencari Api di Gelebak Dalam


ilustrasi

2015, tahun terkelam bagi Gelebak Dalam dan beberapa desa lainnya di Sumsel. Panjangnya ritme kemarau membuat daerah ini menjadi balunan asap, bergabung dengan desa-desa lain di Sumsel. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), jadi momok serius, membuat gerah semua pihak, menghancurkan sentra pertanian, dan sekaligus memojokkan petani sebagai pihak yang dianggap pembakar.

Sang Kepala Desa menggeserkan topi petnya, wajahnya sudah berbelang tercoreng asap. Dua botol air mineral sudah lahap ke tenggorokannya. “Ratusan hektar sawah gagal diolah, tanah kering, air tak ada, sementara kabut asap semakin memedihkan, kami tak tahu lagi akan mengerjakan apa, apakah mengurusi api atau ngurusi lahan pertanian,”keluhnya. Banyak warga Desa Gelebak Dalam yang juga kemudian terpapar penyakit ISPA dan mata perih. Sekolah-sekolah juga diliburkan, kegiatan keluar rumah warga terhambat.
Desa ini sebenarnya cukup luas, Kades berkata sekitar 1.773 km2. Di sekeliling pemukiman terhampar persawahan, menyatu dengan Sungai Komering yang menjadi batas desa. Sawah memang menjadi andalan utama desa ini, sama seperti desa-desa lain disekitarnya, Desa Sako, Desa Pangkalan Gelebak dan lainnya. Tak heran jika daerah ini masuk sebagai sentra lumbung padi Sumsel. Dimusim hujan, hijaunya persawahan akan menyejukkan mata, berbaur pula dengan kilauan ikan-ikan sepat, betok, gabus, dan bahkan patin. Tapi itu saat musim hujan. Sekarang, sejauh mata memandang, hamparan tanah kering yang terpotong-potong oleh bekas pematang, tanah retak-retak, bekas tunggul kayu berwarna kehitaman, menjadi pemandangan biasa. Seekor anjing kurus mengais-ngais tanah, mandi debu di tanah kering. Tak lagi menggonggong karena babi pun bagai hilang di telan kabut asap.

2015 jadi tahun merah.

***