Cerpen

PILAKUIK


ilustrasi

“Nah lah sudah, pasanglah kait  diujung buluh itu,” ujar Bapak sambil menarik tali agar lebih kencang. Di setiap sudut ladang memang dipasang joaran bambu, dibuat melengkung dan diberi pengait dibawahnya. Saat pengait dipasang, tali disepanjang pinggir ladang akan terentang kencang. Satu tali lagi terhubung ke arah Dangau yang berada di tengah. Ada 4 tali yang terhubung ke Dangau, sesuai jumlah sudut ladang ini.

Setelah kait dipasang, Bapak mencoba menyenggol tali yang terentang di sisi ladang. Seketika saja…..Bumm…Gubrak!!, dinding Dangau yang terbuat dari papan kering itu berdentum di hantam batu sebesar dua kepalan orang dewasa. Batu itu memang sengaja digantungkan dan terhubung pada tali yang ditarik dari setiap sudut ladang. Apabila tali di sisi ladang tersentuh atau tersenggol, maka kait dari joaran buluh akan lepas, dan secara otomatis batu yang tergantung di dinding Dangau akan lepas mengayun dan menghantam dinding Dangau.

“Kalau ada Babi masuk nanti malam, dia pasti menyenggol tali itu, Pilakuik pasti bingkeh (lepas),” kata Bapak lagi. Aku hanya mengangguk-angguk. Rupanya ini semacam penanda bahwa ada “sesuatu” yang masuk ke ladang. Karena ladang ini baru ditanam kacang tanah, maka Babi Hutan adalah hewan yang paling diwaspadai. Kondiak (babi) ini memang suka dengan kacang tanah.

“Lantas, kalau tahu Pilakuik bingkeh, apa yang harus kita lakukan, apa kita kejar babi itu pak?”tanyaku ragu, membayangkan sosok babi hutan besar bertaring runcing, yang pasti melawan jika terganggu. Bahkan pernah tetanggaku dulu harus menerima banyak jahitan, gegara diseruduk saat berburu babi hutan.