Cerpen
PILAKUIK
- Yenrizal
- 25 Sep 2021
- dilihat 223
ilustrasi
Jarak rumah ke ladang hanya sekitar 500 meter. Kendati demikian suasana yang gelap cukup mengganggu. Halaman rumah gelap gulita, apalagi ladang. Tahun 1985 itu, memang daerah kami belum teraliri listrik. Pasaman (Barat) hanya dikenal orang di atas peta, bahkan dicari nama kampungkupun tak ada, boleh sanak cari nama Batang Lingkin, Bancah Talang, tak akan bersua, paling-paling hanya ada Simpang IV, daerah paling ramai, berjarak 2 km dari rumah.
Suara burung hantu sesekali terdengar, bertingkah pula dengan dengingan nyamuk yang begitu rajin menemani kami berjalan. Desauan daun buluh Aur tertiup angin berbaur dengan lenguhan-lenguhan pendek bersuara berat. Lenguhan itu seperti orang mendehem, lebih mirip suara mendengus yang berat.
“Hoii!! Hoii! Hua! Hua!!” teriak bapak berulang kali. Cahaya senternya diarahkan ke asal suara sambil terus berteriak. Sekilas cahaya senter bisa menangkap bayangan hitam sebesar kambing gemuk. Aku terkaget, cepat merapat ke arah bapak. Suara bapak terus berteriak dan semakin keras. Krosak…krosak, suara semak tersibak yang terdengar. Lantas hening, sunyi.
“Banyak sekali babi malam ini, sepertinya harus begadang kita,” ujar Bapak tenang.
Palembang - Clouds



0 Komentar