Cerpen
PILAKUIK
- Yenrizal
- 25 Sep 2021
- dilihat 223
ilustrasi
Babi hutan memang jadi hama yang merisaukan. Ladang yang baru ditanam biasanya jadi sasaran, apalagi kalau kacang tanah sudah mulai berisi, makhluk satu ini pasti sudah mengintai. Aku bahkan pernah menemukan sarang babi itu di semak-semak belakang rumah, bentuknya seperti gumpalan daun ilalang yang tersusun sedemikian rupa. Saat aku sampaikan ke bapak, besoknya langsung dibakar.
Sesampai di ladang, yang pertama diperiksa bapak adalah Pilakuik. Syukurlah belum ada yang bingkeh, artinya belum ada yang masuk ke ladang. Untuk memastikan keadaan, bapak menyorotkan senter ke seluruh area ladang, karena baru ditanam, ladang tersebut terlihat lapang sehingga pandangan bisa mengarah ke semua sisi.
Dangau bertiang setinggi sekitar 2 meter di atas permukaan tanah itu hanya berukuran sekitar 2 x 2 meter, beratap rumbia dan berdinding papan. Bagian bawah dangau sudah tertumpuk kulit-kulit kelapa kering dan beberapa potong kayu. Kulit kelapa itu dibakar bapak, ditimbun pula dengan kayu kering. Api mulai membesar dan bara mulai muncul. Seketika dangau menjadi terang. Asap pembakaran membubu kemana-mana, menciptakan bau menyengat dan sedikit memedihkan mata.
“Nah aman, sekarang kita terbebas dari nyamuk,” ujar Bapak. Pengusir nyamuk paling handal memang asap dari pembakaran sabut kelapa. Kendati kami bagai tidur di atas pemanggang, tapi ternyata cukup menghangatkan badan. Bapak memasang kayu dua buah, mirip seperti tali jemuran, melintasi api, kemudian menggantungkan periuk kecil. Tak lama airpun mendidih, dan segelas kopi dinikmatinya. Indo Jaya kembali menyebarkan aromanya, berbaur asap dari bawah Dangau.
Palembang - Clouds



0 Komentar