Cerpen

PILAKUIK


ilustrasi

“Tidurlah kalau waang mengantuk, nanti kalau Pilakuik bingkeh pasti terdengar,” ujar Bapak melihatku sudah terangguk-angguk. Sebenarnya aku ingin menunggu saat Pilakuik berbunyi, ingin kuteriakkan bahkan kukejar babi hutan itu. Sebilah lading sudah tergantung, tinggal kutarik saja. Aku berniat untuk punya pengalaman dengan manggaro malam ini, bagaimana aku mengejar babi, berteriak dan berlari. Tentu ini akan jadi bahan cerita saat aku sekolah lagi hari Senin nanti. Tentu teman-temanku aku terperangah, bertanya, dan menganggapku luar biasa. Ah, tak sabar kiranya aku menunggu, tapi sepertinya para babi hutan sedang menjauh, lama kutunggu tak juga terdengar, hingga kakiku menggelung ke dalam sarung.

***

Suara keras berdentum membuatku terbangun. Sigap aku mengambil senter, cahayanya kuarahkan ke sisi lembah dari ladang, ke arah asal untaian tali  Pilakuik. Mata nanar mencoba beradaptasi dengan suasana gelap. Mungkin saat ini sudah jam 3 subuh, entahlah karena aku tak punya jam. Lading panjang sudah ditangan. Aku bagai bertenaga, sembari membayangkan sosok pahlawan super, Flash Gordon, tokoh film kartun yang sering kutonton dari TV tetangga. Dengan kecepatan seorang Flash aku melompat ke bawah dangau, tanpa mencari sandal lagi, cigin (berlari cepat) aku ke ujung ladang. Bayangan gelap sempat kulihat melintas di antara cahaya senter, besarnya kira-kira sebesar anak kerbau berusia sebulan. Jantungku berdegub, bah ini dia si Kondiak perusak tanaman itu! Jiwa Flash Gordon ku bangkit. Sambil berteriak sekuat yang kumampu, kukejar sosok itu, berlari, melompati bekas tunggul kayu, dan senter tetap mengarah pada bayangan gelap yang semakin jelas. Entah kenapa tak ada ketakutan sama sekali. Aku bagai lupa pesan Bapak bahwa jika ada babi hutan, tak perlu dikejar, cukup diteriakkan saja, tapi aku tetap berlari. Rasanya sudah begitu jauh aku mengejar, bayangan hitam itu tetap serupa bayangan, kukejar terus. Lading panjang kuacungkan, siap dengan segala kondisi. Hingga pada suatu saat, tiba-tiba hewan gemuk berkulit hitam, berbulu lebat sudah didepanku. Taring putihnya begitu runcing, berkilat terkena sorotan senterku, ia seperti menggeram dan mata merahnya seakan ingin menerkamku duluan.

Seketika ajaran silat yang pernah kupelajari di surau, menyuruh bersiaga. Entah jurus apa yang kuingat, yang jelas kuda-kuda sudah terpasang. Saat hewan gemuk itu melompat ingin menerkam, aku mendahului dengan melepaskan tendangan melompat. Kiranya jurus silat dan kepiawaian seorang Flash Gordon sudah menyatu. Namun tiba-tiba…Buk!, kepalaku bagai membentur sesuatu, mungkin terantuk ke badan babi gemuk itu atau mungkin dia sudah menindihku. Nafasku ngos-ngosan, suarapun sulit keluar. Ladingku tercampak entah kemana. Aku menggeliat, berusaha bangkit, dan badanku tergoyang-goyang, terus bergoyang, ke kiri ke kanan.