Cerpen

PILAKUIK


ilustrasi

“Hoi…Ndi, Ndi, bangunlah, sholat subuh!” suara Bapak sayup kudengar. “Jago, jago! (bangun)” suara Bapak makin jelas. Matakupun terbuka, cahaya matahari mulai menelisik melalui dinding dangau. Kuusap-usap mata, melihat sekeliling, hanya Bapak yang kulihat sedang menyeruput kopi panasnya. Asap Indo Jaya menyadarkanku.  Tak ada babi hutan, tak ada silat, tak ada Flash Gordon. Batu yang menjadi gantungan Pilakuik masih terpasang dengan baik. Semua biasa saja/

 

Dr. Yenrizal, M.Si

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UIN Raden Fatah