Feature

Memulai Memahami Tanah Semende


ilustrasi

Setelah dari rumah Kades, aku keliling-keliling desa dengan Kak Ipul. Tampak jelas bahwa rumah warga hampir seragam, yaitu rumah panggung dan rumah endap (rendah). Posisi rumah dibangun sepanjang alur jalan raya desa ini. Beberapa memang ada yang mengelompok di bagian dalam. Rumah cenderung rapat dan tidak memiliki pagar. Hampir semua rumah berukuran besar, sekitar 6 x 10 M, terbuat dari kayu dan beratap seng. Tidak aku temukan rumah yang beratap genteng atau lainnya, semua seng. Kata Kak Ipul, lebih enak pakai seng, karena selain harganya dianggap lebih murah, dan kalau siang terasa hangat. Faktor cuaca tampaknya jadi pedoman penting.

Menurut kak Ipul, semua rumah disini berdekatan karena dulunya kan penduduk sedikit. Jadi kalau terjadi sesuatu masalah, mereka bisa langsung tahu. Lagi pula, hampir semua warga di desa ini adalah bersaudara atau memiliki hubungan famili, jadi komunikasi menjadi lebih mudah.

Jalan desa ini terbuat dari aspal, sepertinya baru diperbaiki karena aspal masih terkesan baru dan rapi. Kata Kades tadi, jalan ini mulai di aspal sekitar tahun 2000 lalu, kemudian diperbaiki lagi 2 tahun lalu. Dulunya ini jalan tanah, tapi pernah di aspal tahun 1990-an.

Aku juga melihat aliran listrik dari PLN sudah masuk ke semua lokasi desa. Karena itu, di beberapa rumah terlihat anak-anak yang asyik nonton TV atau bahkan ada yang sibuk memutar VCD lagu anak-anak, film kartun, dan terutama alunan lagu dangdut dan lagu daerah berbahasa Semende. Dua jenis lagu ini kerap sekali aku dengar dari sela-sela rumah penduduk. Penjelasan dari Kades bahwa listrik masuk ke Semende sekitar 3 tahun lalu. Setelah itu lah banyak warga yang beli TV dan alat elektronik lainnya.