Feature

Memulai Memahami Tanah Semende


ilustrasi

Pagi ini, 25 Agustus 2013. Aku berkunjung ke rumah Kepala Desa Swarna Dwipe, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim. Namanya Efriyanto. Orangnya masih muda, belum kepala 4, katanya 38 tahun. Ia termasuk generasi muda yang cukup menonjol. Silaturrahmi dulu, mohon izin untuk menetap dan beraktifitas didaerahnya selama beberapa waktu. Sebelumnya aku sudah kenal beliau karena dulu pernah ada kegiatan ke wilayahnya, tidak perlu terlalu kaku dengannya.

Sang Kades sangat antusias menyambutku, senyumnya lebar. Seperti biasa, ia masih tetap seperti penampilannya dulu, pakai peci hitam, berpostur tinggi semampai, kaos oblong, celana panjang, dan tak lupa sebatang rokok yang tak lepas dari mulutnya. Soal rokok ini, hampir semua warga yang aku temui selalu punya kebiasaan sama. Agaknya, cuaca dingin jadi alasan mereka untuk menghangatkan diri dengan kepulan asap rokok. Aku jadi teringat dulu di daerah Tawang Mangu, Jawa Tengah, juga pernah menemukan warga yang hampir semuanya terbiasa merokok dengan alasan cuaca dingin. Biasanya mereka mengisap rokok kretek tanpa filter, lebih hangat katanya. Tapi di Semende ini, justru aku lihat tidak membedakan itu, ada yang pakai filter ada juga yang tidak.

Kades bercerita panjang lebar tentang wilayahnya. Penduduk saat ini mencapai 1.100 jiwa dengan 201 KK. Komposisi laki-laki perempuan hampir sama, 560 perempuan, 540 laki-laki. Dominan pada usia 18-50 tahun yaitu 456 jiwa, berusia 18 tahun sebanyak 359 jiwa dan di atas 50 tahun 285 jiwa. Untuk data ini, Kades mendasarkan diri pada monografi desa yang dibuatnya. Hanya saja dari perbincangan, sepertinya data ini bukanlah jumlah yang pasti karena Kades selalu berkata, “kira-kira”.

Kades juga menerangkan soal batas wilayah, sejarah desa, mata pencaharian, serta kebiasaan warga sehari-hari. Desa ini adalah desa hasil pemekaran dari Desa Rekimai Jaya tahun 2007 lalu. Tetapi mereka sudah mendiami lokasi ini sejak lama, dengan dusun aslinya adalah Matang Paoh. Terdapat dua dusun di desa ini, yaitu Rawis dan Matang Paoh. Sehari-hari masyarakat berkebun kopi dan bertani sawah, dominan adalah kopi, karena wilayah yang dianggap bisa dijadikan sawah hanya sedikit. Pertimbangannya adalah ketersediaan saluran air dan kemiringan tanah.

Kalau ke kebun kopi, biasanya warga berangkat pagi-pagi sekali, sehabis subuh. Ini dilakukan terutama kalau sudah masuk masanya menyiangi kebun, dan apalagi saat panen. Sebaliknya kalau masuk musim bersawah, seperti saat ini, warga lebih banyak di sawah, bagi yang tidak punya sawah akan tetap ke kebun.

Kades mempersilahkan aku untuk melakukan kegiatan penelitian, dan ia juga berjanji akan membantu semaksimal mungkin. Bahkan ia juga berencana mengajakku untuk pergi kekebunnya suatu waktu nanti. Katanya tidak jauh, “dibalik bukit belakang rumah ni lah,” demikian ujarnya. Tentu saja ini tawaran menarik, karena itulah memang yang aku inginkan. Semakin banyak aku beraktifitas langsung dengan keseharian warga, akan semakin lengkap juga data yang diperoleh.

“Tetapi nanti, beberapa hari ini hujan terus, kabut di Bukit Balai masih gelap terus, nantilah kalau sudah cukup terang,” ujarnya. Ulasan tentang kabut ini, jadi perhatian tersendiri bagi aku, salah satu simbol alam yang dimaknai, sepertinya.

“Memang, lihat saja kabut itu. Biasanya kalau gelap di Bukit Balai, pertanda hujan itu, kalau terang baru panas,” ujarnya. Kak Ipul yang setia mendampingi aku juga mengamini. “Lah biasa itu. Anak-anak juga tahu karena tiap hari melihatnya,” kata Kak Ipul. Kak Ipul (Syaipul) adalah salah seorang warga desa Tenam Bungkuk, dan beliau menjadi sosok penting dalam perjalanan penelitian yang aku lakukan.

Setelah dari rumah Kades, aku keliling-keliling desa dengan Kak Ipul. Tampak jelas bahwa rumah warga hampir seragam, yaitu rumah panggung dan rumah endap (rendah). Posisi rumah dibangun sepanjang alur jalan raya desa ini. Beberapa memang ada yang mengelompok di bagian dalam. Rumah cenderung rapat dan tidak memiliki pagar. Hampir semua rumah berukuran besar, sekitar 6 x 10 M, terbuat dari kayu dan beratap seng. Tidak aku temukan rumah yang beratap genteng atau lainnya, semua seng. Kata Kak Ipul, lebih enak pakai seng, karena selain harganya dianggap lebih murah, dan kalau siang terasa hangat. Faktor cuaca tampaknya jadi pedoman penting.

Menurut kak Ipul, semua rumah disini berdekatan karena dulunya kan penduduk sedikit. Jadi kalau terjadi sesuatu masalah, mereka bisa langsung tahu. Lagi pula, hampir semua warga di desa ini adalah bersaudara atau memiliki hubungan famili, jadi komunikasi menjadi lebih mudah.

Jalan desa ini terbuat dari aspal, sepertinya baru diperbaiki karena aspal masih terkesan baru dan rapi. Kata Kades tadi, jalan ini mulai di aspal sekitar tahun 2000 lalu, kemudian diperbaiki lagi 2 tahun lalu. Dulunya ini jalan tanah, tapi pernah di aspal tahun 1990-an.

Aku juga melihat aliran listrik dari PLN sudah masuk ke semua lokasi desa. Karena itu, di beberapa rumah terlihat anak-anak yang asyik nonton TV atau bahkan ada yang sibuk memutar VCD lagu anak-anak, film kartun, dan terutama alunan lagu dangdut dan lagu daerah berbahasa Semende. Dua jenis lagu ini kerap sekali aku dengar dari sela-sela rumah penduduk. Penjelasan dari Kades bahwa listrik masuk ke Semende sekitar 3 tahun lalu. Setelah itu lah banyak warga yang beli TV dan alat elektronik lainnya.

Di banyak rumah warga aku juga menemukan sepeda motor yang terparkir. Motor memang adalah kendaraan biasa di sini, hampir saban waktu lalu lalang di jalanan. Ada yang hanya sekedar lewat, ada yang penuh dengan muatan karung-karung berisi hasil kebun. Selain motor, beberapa rumah juga kulihat sudah memiliki mobil, kendati tidak banyak.

Angkutan utama bagi warga disini adalah sepeda motor dan mobil. Khusus mobil, mereka memiliki angkutan khusus pedesaan yang setiap hari bolak-balik Semende-Muara Enim. Sebenarnya ini mobil pick up jenis L-300, tapi dimodifikasi sehingga memiliki ruang-ruang untuk penumpang duduk di belakang. Untuk Swarna Dwipe, hanya ada satu angkutan khusus penumpang ini. Selain itu wilayah Semende juga sudah terhubung oleh travel-travel pribadi milik penduduk. Trayeknya adalah Semende-Muara Enim-Palembang. Biasanya berangkat dari Semende pagi-pagi sekitar pukul 7 pagi. Ongkos ke Palembang tercatat Rp. 130.000,- per-orang.

Dalam perjalanan menelusuri wilayah ini, sering kami bertemu dengan warga lain. Setiap bertemu, sapaan yang khas kudengar adalah “Hoii, kemane kaba (Hoii, kemana kamu)” atau “hoii, tuape gawi (Hooii, apa kerjaan)”. Entah itu orang tua atau anak-anak, biasanya disapa seperti itu. Sepertinya tidak ada pembedaan usia. Terutama sekali kalau yang menyapa itu adalah orang dewasa (seperti kak Ipul). Berbeda kalau yang menyapa itu remaja atau anak-anak, biasanya diawali dengan sebutan atau panggilan istilah kekerabatan, seperti “Mamangan, nak kemane” (Paman, mau kemana).

Kak Ipul sendiri sering juga menyapa ibu-ibu dengan sapaan “hooi”, walaupun menurutnya itu adalah bibi nya atau iparnya. “Kalau sudah dewasa seperti kita ini, sudah biasa saja itu, kecuali anak-anak atau bujang gadis, kurang ajar namanya” kata Kak Ipul.

Hari aku mendapat banyak informasi baru, terutama mengenali lebih jauh wilayah Semende. Minimal dari pandangan awal, aku sudah bisa memperkirakan langkah selanjutnya. Semende masih menyisakan banyak tandatanya yang harus diperdalami.

*Dr. Yenrizal, M.Si.
Tulisan ini adalah bagian dari catatan lapangan saat melaksanakan penelitian di Semende Darat tahun 2013-2014 silam.