Feature
Memulai Memahami Tanah Semende
- Yenrizal
- 03 Oct 2021
- dilihat 299
ilustrasi
Di banyak rumah warga aku juga menemukan sepeda motor yang terparkir. Motor memang adalah kendaraan biasa di sini, hampir saban waktu lalu lalang di jalanan. Ada yang hanya sekedar lewat, ada yang penuh dengan muatan karung-karung berisi hasil kebun. Selain motor, beberapa rumah juga kulihat sudah memiliki mobil, kendati tidak banyak.
Angkutan utama bagi warga disini adalah sepeda motor dan mobil. Khusus mobil, mereka memiliki angkutan khusus pedesaan yang setiap hari bolak-balik Semende-Muara Enim. Sebenarnya ini mobil pick up jenis L-300, tapi dimodifikasi sehingga memiliki ruang-ruang untuk penumpang duduk di belakang. Untuk Swarna Dwipe, hanya ada satu angkutan khusus penumpang ini. Selain itu wilayah Semende juga sudah terhubung oleh travel-travel pribadi milik penduduk. Trayeknya adalah Semende-Muara Enim-Palembang. Biasanya berangkat dari Semende pagi-pagi sekitar pukul 7 pagi. Ongkos ke Palembang tercatat Rp. 130.000,- per-orang.
Dalam perjalanan menelusuri wilayah ini, sering kami bertemu dengan warga lain. Setiap bertemu, sapaan yang khas kudengar adalah “Hoii, kemane kaba (Hoii, kemana kamu)” atau “hoii, tuape gawi (Hooii, apa kerjaan)”. Entah itu orang tua atau anak-anak, biasanya disapa seperti itu. Sepertinya tidak ada pembedaan usia. Terutama sekali kalau yang menyapa itu adalah orang dewasa (seperti kak Ipul). Berbeda kalau yang menyapa itu remaja atau anak-anak, biasanya diawali dengan sebutan atau panggilan istilah kekerabatan, seperti “Mamangan, nak kemane” (Paman, mau kemana).
Kak Ipul sendiri sering juga menyapa ibu-ibu dengan sapaan “hooi”, walaupun menurutnya itu adalah bibi nya atau iparnya. “Kalau sudah dewasa seperti kita ini, sudah biasa saja itu, kecuali anak-anak atau bujang gadis, kurang ajar namanya” kata Kak Ipul.
Palembang - Clouds



0 Komentar