Feature
Memulai Memahami Tanah Semende
- Yenrizal
- 03 Oct 2021
- dilihat 299
ilustrasi
Kalau ke kebun kopi, biasanya warga berangkat pagi-pagi sekali, sehabis subuh. Ini dilakukan terutama kalau sudah masuk masanya menyiangi kebun, dan apalagi saat panen. Sebaliknya kalau masuk musim bersawah, seperti saat ini, warga lebih banyak di sawah, bagi yang tidak punya sawah akan tetap ke kebun.
Kades mempersilahkan aku untuk melakukan kegiatan penelitian, dan ia juga berjanji akan membantu semaksimal mungkin. Bahkan ia juga berencana mengajakku untuk pergi kekebunnya suatu waktu nanti. Katanya tidak jauh, “dibalik bukit belakang rumah ni lah,” demikian ujarnya. Tentu saja ini tawaran menarik, karena itulah memang yang aku inginkan. Semakin banyak aku beraktifitas langsung dengan keseharian warga, akan semakin lengkap juga data yang diperoleh.
“Tetapi nanti, beberapa hari ini hujan terus, kabut di Bukit Balai masih gelap terus, nantilah kalau sudah cukup terang,” ujarnya. Ulasan tentang kabut ini, jadi perhatian tersendiri bagi aku, salah satu simbol alam yang dimaknai, sepertinya.
“Memang, lihat saja kabut itu. Biasanya kalau gelap di Bukit Balai, pertanda hujan itu, kalau terang baru panas,” ujarnya. Kak Ipul yang setia mendampingi aku juga mengamini. “Lah biasa itu. Anak-anak juga tahu karena tiap hari melihatnya,” kata Kak Ipul. Kak Ipul (Syaipul) adalah salah seorang warga desa Tenam Bungkuk, dan beliau menjadi sosok penting dalam perjalanan penelitian yang aku lakukan.
Palembang - Clouds



0 Komentar