Artikel

Hilang Minang di Ranah Minang


ilustrasi

Rencana ke Pasa Raya pun saya batalkan. Baru akan menginjak petak-petak los di pasar bersejarah ini, sudah mendengar Uni-uni dan Amai-amai yang riuh rendah menawarkan galeh (dagangan).

“Lado sekilo dua puluh ribu,  limo kilo kasih korting lah lima ribu!”

“Baju anak… baju anak … baju anak. Aaa..kesinilah amak, murah ini saya kasih harganya, balik pokok saja ini nya!”

“Masuklah dulu, lihat-lihat dulu, sepatu baru, tidak cocok, tidak jadi ndak apa-apa bagai doh!”