Artikel

Hilang Minang di Ranah Minang


ilustrasi

Putar baliklah saya dari Pasar besar itu. Riuh suara pedagang tak sedikitpun membuat saya tertarik, padahal sebenarnya itulah yang saya cari. Dulu begitu akrab dengan kata-kata “Kabau baranak jawi manyusu, Sayang ka anak Balikan baju!” Atau “Piliahlah-piliahlah, barang baru angek-angek!”


Jika masuk ke Mall, Café, Hotel, saya masih bisa toleransi karena mungkin memang disitu banyak yang bukan orang Minang dan tidak bisa berbahasa Minang. Tapi di Pasa Raya? 1000% saya yakin pedagang dan pembeli adalah Urang Awak. Tapi kenapa harus melupakan bahasa bernilai tinggi ini?