Artikel
Hilang Minang di Ranah Minang
- Yenrizal
- 04 Jan 2025
- dilihat 289
ilustrasi
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si
Dengan perasaan badabok saya menginjakkan kaki kembali di Ranah Minang. Hampir sepuluh tahun lamanya belum terjejak juga kampung dan nagari. Alasan kesibukan dan kesempatan, kiranya itu yang membuat saya sulit meninggalkan tanah rantau. Alasan nan bacari-cari, katanya. Biarlah, tapi yang pasti sekarang saya ingin bayarkan rasa taragak dengan segala keminangan.
Selamat Datang di Ranah Minang. Itulah poster pertama yang terlihat saat turun di Bandara Minangkabau. Ah, ranah bundo, Ambo Pulang.
“Mari pak, mau pesan taksi, pakai argo, antar langsung,” sapaan awal di pintu kedatangan. Satu taksi online saya pilih, dan segeralah meluncur ke kota Padang.
Di perjalanan saya tak lewatkan kesempatan. “Lai rami pak (ramai tidak pak),” ota (obrolan) dibuka. Sengaja menggunakan bahasa Minang, karena terus terang saya sudah begitu rindu untuk berbicara dengan bahasa Ibu ini. Bahasa yang begitu dibanggakan ketika di rantau, yang kemudian mengilhami berbagai pantun yang selalu saya gunakan saat berpidato ataupun rapat.
“Saya orang Minang karena itu saya harus perpantun sebelum meneruskan pidato,” begitu selalu saya sampaikan. Bangga sekali rasanya. Apalagi ketika kemudian ada yang merespon, memang orang Minang itu pintar berpantun ya.
“Alhamdulillah, lai pak. Nan rasaki lai ka datang juo pak (alhamdulilah, ada pak. Yang rejeki akan datang juga),” jawab sopir taksi. Obrolanpun berlanjut. Ah, perasaan saya makin membuncah, bukan karena apa yang diotakan tapi karena saya pakai Bahasa Minang !
Tiga perempat jalan saya minta berhenti. Godaan sebuah rumah makan, Lapau Nasi, sepertinya memaksa harus turun. Gulai Gajeboh, Tambunsu, Patai Mudo, adalah nama-nama yang sudah lama tak saya dengar lagi. Lupakan dulu semua pantangan.
“Silahkan pak, mau makan apa pak,” ujar pelayannya ramah. Sedikit berkernyit kening saya, apa tampang saya ini bukan tampang orang Minangkah? Kenapa harus berbahasa Indonesia?
“Baidang se lah, jan lupo Teh Talua, agak pakek (hidangan saja, jangan lupa Teh Telur, agak pekat),” sedikit berteriak karena rasanya semakin lapar. Sekejap hidangan sampai ke meja dengan cara manatiang (membawa piring dalam jumlah banyak). Ini dia yang ditunggu. Cara menghidang dan kecepatan, itu ciri khas.
“Silahkan pak, jika ada yang kurang silahkan pesan lagi,” ujar pelayan itu lagi dengan logat yang tak bisa dihilangkan bahwa ia adalah asli Minang. Ondeh, sekejap saya berkaca ke layar HP, apa wajah ini bukan wajah orang Minang? Masih berbahasa Indonesia juga?
Kenyang mengisi perut, perjalanan diteruskan. Kali ini ke lokasi favorit saat masih bujang dulu. Pasa Raya! Karena jarak tak terlalu jauh, jalan kaki sepertinya lebih menarik, pandangan bisa lepas.
Di persimpangan menuju pasar terbesar di Sumbar ini, saya sempatkan masuk ke sebuah Lapau Kopi, yang mereknya sebuah Café. Jadi bukan lapau-lapau sederhana yang dulunya begitu banyak. Saya tahu pastilah ini tempatnya anak-anak muda, mereka yang suka nongkrong, maota.
Pengunjung cukup ramai, untung masih ada meja kosong. Segelas kopi panas pun terhidang. Saya coba menguping apa obrolan para anak-anak gaul ini.
“Ndeh, tadi gue nyari dopim (dosen pembimbing), sudah dua jam gue menunggu, pas basuo, besok saja lah, saya ada rapat mendadak. Ndeh, kesal benar gue jadinya,” keluh seorang yang saya yakin pastilah mahasiswa.
“Si apak itu ya? Ya model itu memang gayanya. Kemaren gue juga begitu, gimana lah kendaknya bapak itu, pusing gue dibuatnya,” ujarnya temannya pula. Obrolan mereka terus berlanjut, saya mulai nanar mendengar percakapan itu.
Ternyata tidak hanya dua orang itu saja, di meja lain juga begitu, meja yang ujungpun begitu. Saya dengar karena suara mereka cukup jelas.
Sorotan bagi saya bukannya topik yang dibahas tapi bahasa yang digunakan. Entah itu bahasa Indonesia atau bahasa Minangkah, yang jelas sangat tidak nyaman mendengarkannya. Siapapun pasti tahu bahwa mereka pasti lah anak Minang asli, logat tak bisa dihilangkan. Kemuakan mulai sedikit terasa.
Tak berapa lama duduk disitu, saya memutuskan keluar, muak rasanya.
Hawa Padang yang panas, membuat langkah masuk ke sebuah Mall besar. Pasti adem karena full AC. Kesejukanpun menghampiri. Iseng-iseng saya coba lihat-lihat jejeran baju-baju yang beraneka ragam. Tidak ada niat mau membeli, hanya cari nyaman saja. Tapi tak ada salahnya keliling sebentar, siapa tahu ada yang cocok.
“Silahkan pak, boleh lihat-lihat dulu,” ujar seorang anak gadih menghampiri.
“Liek-liek se dulu yo diak, kok ndak jadi ndak baa kan, (lihat-lihat saja dulu dek, kalau tidak jadi, tidak apa-apa kan),” bahasa Minang saya keluarkan.
“Tidak apa-apa pak, silahkan lihat-lihat dulu. Aaa..ini model baru ini pak,” ujarnya mengambil sebuah baju.
“Oo..lai ka cocok jo awak lah gaek mode ko, (Oo, apakah akan cocok untuk saya yang sudah tua seperti ini),” saya sedikit menggoda.
“Eh kata siapa Bapak sudah tua. Masih muda Bapak itu mah,” ia merayu. Plak, saya mukul jidat. Bahasa tidak karuan lagi, rutuk saya dalam hati.
“Gimana Bapak, jadi ambillah ha, pasti cocok bapak pakai ini di rumah nanti,” ujarnya lagi.
“Diak, adiak urang ma, lai urang Padang ko ndak? (Dek, adek orang mana, apakah orang Padang ini tidak),” tak tahan lagi saya untuk bertanya.
“Iyalah pak, asli saya orang Padang, rumah saya di sebelah sana, kenapa rupanya bapak bertanya segala?”
“Kok lai urang Awak, baa kok bahasa Indonesia se dari tadi, lah panek wak mandanga bahaso bacampua-campua mode tu. Bahasa Minang se baa salahnyo, ambo kan bahaso Minang dari tadi (Jika memang orang Awak, kenapa bahasa Indonesia terus dari tadi, sudah capek saya mendengar bahasa campur aduk begitu. Saya kan pakai bahasa Minang dari tadi),” saya tak bisa lagi menahan diri.
“Eh maaf pak, iyo pak ambo rang awak,” ujarnya tertunduk malu. Selanjutnya iapun dengan lancar berbahasa Minang. Tapi hati tak lagi berminat.
Rencana ke Pasa Raya pun saya batalkan. Baru akan menginjak petak-petak los di pasar bersejarah ini, sudah mendengar Uni-uni dan Amai-amai yang riuh rendah menawarkan galeh (dagangan).
“Lado sekilo dua puluh ribu, limo kilo kasih korting lah lima ribu!”
“Baju anak… baju anak … baju anak. Aaa..kesinilah amak, murah ini saya kasih harganya, balik pokok saja ini nya!”
“Masuklah dulu, lihat-lihat dulu, sepatu baru, tidak cocok, tidak jadi ndak apa-apa bagai doh!”
Putar baliklah saya dari Pasar besar itu. Riuh suara pedagang tak sedikitpun membuat saya tertarik, padahal sebenarnya itulah yang saya cari. Dulu begitu akrab dengan kata-kata “Kabau baranak jawi manyusu, Sayang ka anak Balikan baju!” Atau “Piliahlah-piliahlah, barang baru angek-angek!”
Jika masuk ke Mall, Café, Hotel, saya masih bisa toleransi karena mungkin memang disitu banyak yang bukan orang Minang dan tidak bisa berbahasa Minang. Tapi di Pasa Raya? 1000% saya yakin pedagang dan pembeli adalah Urang Awak. Tapi kenapa harus melupakan bahasa bernilai tinggi ini?
Banyak contoh lain yang kemudian ditemukan di setiap sudut kota Padang ini. Di kelompok anak muda, orang tua, di dalam rumah, di Lapau, semua sama. Saya juga sempatkan ke Bukittinggi, hal sama yang bersua. Masuk ke kantor pemerintahan, rumah sakit, kampus, semua sama. Walau sudah berbusa-busa pakai bahasa Minang, tetap saja jawabannya adalah Bahasa Indonesia campur Bahasa Minang.
Bukannya saya tidak bisa berbahasa Indonesia atau kecintaan pada bahasa persatuan yang hilang, bukan sama sekali. Sebagai orang yang besar di rantau, bahasa Indonesia adalah makanan saya sehari-hari. Nasionalisme soal ini tak usah diragukan.
Bahasa Indonesia dibentuk dari perpaduan berbagai bahasa daerah, dan dominan adalah bahasa Melayu. Bahasa adalah ciri khas, demikian Fredrik Barth pernah berkata. Identitas paling jelas dari sebuah komunitas adalah bahasa. Bahasa akan menunjukkan jati diri sebuah kelompok.
Bahasa bukan sekedar percakapan, tapi disitu ada nilai, ada norma, ada pembelajaran, dan ada sopan santun. Sebuah kelompok etnis dianggap masih ada karena disitu masih ada bahasa aslinya yang digunakan. Jika bahasa asli itu tak ada lagi, otomatis, sang etnis sulit mengakui bahwa ia adalah etnis tertentu.
Konon lagi bahasa Minang, sebuah tuturan yang sejak dulu diakui bernilai tinggi, punya kosa kata yang begitu mumpuni, pepatah petitihnya begitu mendayu dan bermakna dalam. Ketajaman sindiran dari kieh melebihi tajamnya pisau silet. Di situ ada kato nan ampek, ado ereang dengan gendeang (kata yang empat, ada sopan dengan kesantunan). Seluruh masyarakat dunia, mengakui hal ini.
Tetapi saat dimana orang Minang tak mau lagi berbahasa Minang, bahkan didaerahnya sendiripun, kemana lagi muka harus ditempatkan. Apakah masih pantas mengakui sebagai Orang Minang jika berbahasa Minang dengan sesama orang Minangpun kita tak lagi mau? Malu berbahasa Minang, itulah tanda-tanda orang Minang akan kehilangan keminangannya.
10 tahun lagi, 99% saya yakin tak akan menemukan lagi bahasa Minang di Ranah Minang. Kalaupun ada mungkin saya harus masuk jauh ke nagari-nagari, ke ladang-ladang, ke tengah-tengah sawah. Begitulah. Dimana saya harus mencari bahasa Minang, mungkin akan ditemukan saat bertemu sesama perantau di Tanah Rantau, tapi tidak di Ranah Minang.
Palembang - Clouds



0 Komentar