Artikel
Bambu dan Makna Lingkungan
- Yenrizal
- 01 Sep 2025
- dilihat 190
Bambu
Saat masih kanak-kanak dulu, sekitar tahun 1980-an, saya dan teman-teman paling suka main bedil-bedilan kecil dari buluh cina (Bambusa multiplex). Jenis bambu ini seperti rumput atau ilalang karena ukurannya kecil. Warga di desa kami sering menjadikan tanaman ini sebagai pagar di halaman rumah. Tingginya paling-paling sekitar 1 m, dan jarang menjadi lebih tinggi karena dipotong untuk mempercantik bentuknya. Memainkan ini asyik sekali, dan memang sebagai kanak-kanak di desa, jenis mainan seperti inilah yang bisa kami lakukan. Kami berlagak bagai seorang prajurit yang bertempur, menembak dengan peluru dari biji-bijian atau kertas koran yang dibasahkan.
Di masa dulu juga, orang-orang tua kami suka mencari bambu dengan berbagai jenis, dan kemudian direndam di aliran air atau rawa-rawa selama sekitar sebulan. Bambu yang direndam dipercaya menjadikannya berkualitas bagus dan tahan terhadap rayap. Bambu ini kemudian diolah menjadi dinding rumah, pagar, lantai rumah dan sebagainya. Begitupun, setiap menjelang lebaran, nenek dan ibu-ibu biasanya sibuk mengolah jenis bambu talang (Schizostachyum brachycladum Kurz), mengambil serus-seruas, diisi beras, dibakar dengan posisi berdiri, maka jadilah ia lemang. Menu luar biasa dan wajib kala itu.
Bambu
memang melekat sekali dengan komunitas masyarakat pedesaan, komunitas awal
pembentuk masyarakat lain yang lebih luas. Bisa dipastikan dimanapun lokasinya,
penduduk Indonesia sangat kenal dan dekat tumbuhan yang satu ini. Tumbuhan ini
menjadi sangat dekat dengan masyarakat karena memang sangat mudah diperoleh
(kala itu) dan ia bisa tumbuh dimanapun. Tak perlu dipupuk dan dibersihkan,
bahkan tergeletakpun di tanah, ia akan tumbuh dengan sendirinya.
Bisa
kita lihat bagaimana sebaran bambu ini ada di seluruh daerah Nusantara. Tiap
daerahpun punya sebutan sendiri untuk bambu ini, yang menunjukkan bahwa mereka
mengenal dan dekat dengan tanaman jenis rumput ini. Orang Aceh menyebutnya
Trieng, di Bali sebut Ting, orang Batak menamai dengan Bulu, di Sumbar di sebut
Buluh, Madura mengatakan Keles/Pereng, di Jawa disebut Pring/Bambu, dan sebutan
lainnya di berbagai daerah. Semuanya merujuk pada tanaman yang sama.
Palembang - Clouds



0 Komentar