Artikel

Hilang Minang di Ranah Minang


ilustrasi

“Silahkan pak, mau makan apa pak,” ujar pelayannya ramah. Sedikit berkernyit kening saya, apa tampang saya ini bukan tampang orang Minangkah? Kenapa harus berbahasa Indonesia?

Baidang se lah, jan lupo Teh Talua, agak pakek (hidangan saja, jangan lupa Teh Telur, agak pekat),” sedikit berteriak karena rasanya semakin lapar. Sekejap hidangan sampai ke meja dengan cara manatiang (membawa piring dalam jumlah banyak). Ini dia yang ditunggu. Cara menghidang dan kecepatan, itu ciri khas.

“Silahkan pak, jika ada yang kurang silahkan pesan lagi,” ujar pelayan itu lagi dengan logat yang tak bisa dihilangkan bahwa ia adalah asli Minang. Ondeh, sekejap saya berkaca ke layar HP, apa wajah ini bukan wajah orang Minang? Masih berbahasa Indonesia juga?

Kenyang mengisi perut, perjalanan diteruskan. Kali ini ke lokasi favorit saat masih bujang dulu. Pasa Raya! Karena jarak tak terlalu jauh, jalan kaki sepertinya lebih menarik, pandangan bisa lepas.