Artikel

Hilang Minang di Ranah Minang


ilustrasi

Di perjalanan saya tak lewatkan kesempatan. “Lai rami pak (ramai tidak pak),” ota (obrolan) dibuka. Sengaja menggunakan bahasa Minang, karena terus terang saya sudah begitu rindu untuk berbicara dengan bahasa Ibu ini. Bahasa yang begitu dibanggakan ketika di rantau, yang kemudian mengilhami berbagai pantun yang selalu saya gunakan saat berpidato ataupun rapat.

“Saya orang Minang karena itu saya harus perpantun sebelum meneruskan pidato,” begitu selalu saya sampaikan. Bangga sekali rasanya. Apalagi ketika kemudian ada yang merespon, memang orang Minang itu pintar berpantun ya.

“Alhamdulillah, lai pak. Nan rasaki lai ka datang juo pak (alhamdulilah, ada pak. Yang rejeki akan datang juga),” jawab sopir taksi. Obrolanpun berlanjut. Ah, perasaan saya makin membuncah, bukan karena apa yang diotakan tapi karena saya pakai Bahasa Minang !

Tiga perempat jalan saya minta berhenti. Godaan sebuah rumah makan, Lapau Nasi, sepertinya memaksa harus turun. Gulai Gajeboh, Tambunsu, Patai Mudo, adalah nama-nama yang sudah lama tak saya dengar lagi. Lupakan dulu semua pantangan.