Penelitian
Ke Kebun Kopi
- Yenrizal
- 13 Oct 2021
- dilihat 223
ilustrasi
Hari itu aku menghabiskan waktu di kebun pak Bustan. Diawali dengan minum kopi lagi, kemudian melihat-lihat kebun dan mencoba-coba membantu pak Bustan untuk membersihkan rumput liar di sekitar kebun. Dari sela-sela batang kopi, aku sempatkan juga untuk mencicipi buah markisa yang menggelantung begitu saja. Markisa memang banyak tumbuh di sekitar kebun, tidak dibudidayakan khusus, hanya selingan saja. Menurut warga, bibit markisa ini dulunya diberikan pemerintah, namun kemudian tidak ada kelanjutan lagi, warga terlalu disibukkan dengan tanaman kopi mereka. Padahal kalau kulihat potensinya cukup bagus, markisa tumbuh subur dan buahnya terasa manis dan segar. Namun, seperti kata Pak Bustan, tidak ada waktu lagi, kopi mau diurus, sawahpun harus dikelola.
Sekitar pukul 12 siang, kami istirahat di dangau. Istri pak Bustan yang datang menyusul, sudah mempersiapkan makanan. Sangat menarik sekali, nasi putih panas, umbut rotan, sambel terung belanda, lalapan jengkol, beberapa potong ikan asin. Hanya itu, tetapi sangat mengundang selera.
Menurut pak Bustan, sebenarnya mereka tak biasa makan siang di kebun. Makan bagi mereka adalah jam 10 pagi dan jam 5 sore nanti sepulang dari kebun, atau malam, jika sampai dirumah malam hari. Itu rutinitas makan warga Semende. Sekarang ini kami makan siang jam 12, karena ada aku, yang tentu belum terbiasa dengan pola hidup orang Semende. Oh, pola hidup yang unik juga pikirku.
Sehabis makan siang, istirahat sejenak, sholat zuhur dan kami kembali ke kebun. Aku lihat di beberapa punggung bukit, di kejauhan tampak asap-asap tipis dari dangau-dangau penduduk. Di dangau pak Bustan juga demikian. Katanya, itu sebuah pertanda bahwa ada orang di kebun tersebut. Kalau ada apa-apa, bisa langsung berhubungan. Caranya dengan berteriak “Hoiii” sekeras-kerasnya, atau dengan memukul kentongan yang tergantung di dinding dangau. Hanya saja kentongan ini dipergunakan pada saat-saat khusus, misalnya ada bahaya, musibah, atau lain sebagainya.
Palembang - Clouds



0 Komentar