Penelitian

Ke Kebun Kopi


ilustrasi

Hal yang unik pikirku. Cara berkomunikasi di kebun khas masyarakat setempat.

Jam 16.30 WIB kami beranjak pulang. Cuaca cukup mendukung, tidak hujan sehingga kami bisa pulang. Dibanding waktu pergi tadi, pulangnya lebih terasa cepat karena jalan lebih menurun dan tidak terlalu sering mampir ke dangau warga lainnya. Di sepanjang jalan, kulihat beberapa batang Sengon yang kulitnya terkelupas, bagai di sayat-sayat. Sebelumnya kulihat juga pohon Durian yang hampir sama sayatannya. Aku belum sempat bertanya karena kami harus mengejar waktu.

Jam 17.30 WIB aku sampai di rumah kak Ipul, cuci kaki, ganti baju, dan tentu saja segelas kopi lagi. Aku lanjutkan ngobrol dengan kak Ipul, karena ada hal-hal lain yang perlu didalami. Kendati seharian ini ada di kebun, aku tak berani untuk mandi di sore ini, dinginnya cuaca belum beradaptasi dengan tubuh.

Sekarang aku harus mendalami soal sayatan di batang Sengon tadi, kurasa Kak Ipul bisa menjawab. Namun sayangnya, Kak Ipul sudah berlalu kekamarnya, sejenak dengkuran halus mulai mendayu. Mulutkupun mulai menguap, 4 gelas kopi sehari ini, rupanya tak berpengaruh pada mata. Kupluk kurapatkan, selendang dibelitkan ke leher, tak lupa kaos kaki penahan dingin. Dari kejauhan hanya deritan jangkrik dan sesekali terdengar bunyi “kum…kum….” Semendepun senyap.