Feature

Edukasi Kopi di Pojok Tembesu


ilustrasi

Lantunan musik lembut mengiringi obrolan. Nama Pojok Tembesu terpampang cukup artistik. Nama yang mengingatkan saya pada salah satu jenis pohon yang tumbuh di Sumsel, kayu yang sudah dikenal sejak zaman kesultanan dulu, kayu yang kuat, namun juga sudah hampir punah. Agaknya pilihan nama ini adalah bagian dari “mengingatkan” generasi muda pada kejayaan kayu di Sumsel. Bagian edukasi juga.

Rombongan anak muda terus berdatangan, mengisi bangku-bangku kayu yang masih kosong. Agaknya mereka betah karena memang semua tersedia. Ponsel android tak lepas dari tangan mereka, nyambung dengan akses Wifi gratis yang tersedia. Kloplah buat nongkrong berlama-lama.

“Tapi pak Yen, bagi saya minum kopi di café seperti ini bukan sekedar nongkrong. Nongkrong adalah budaya yang sudah tumbuh di Sumsel sejak dulu. Nongkrong adalah sebuah potensi, bukan kerja mubazir. Apa yang bisa kita lakukan? Edukasi, itu intinya. Karena itu, sembari mereka nongkrong, sebetulnya kita sedang mengedukasi mereka dengan gaya mereka sendiri. Ruang pamer, sejarah kopi, kekayaan hutan Indonesia, kekayaan kopi Indonesia, kita suguhkan sesuai versi mereka sendiri,” jelas pak Iwan panjang lebar.

Hampir 2 jam saya menikmati aroma pepohonan yang segar, terkadang diselingi dengan beberapa monyet nakal yang seperti akrab dengan manusia. Ingatan saya melayang pada sejarah kopi di Indonesia, jenis yang dulunya bernama Kahweh, didatangkan dari Timur Tengah dan kemudian menjadi favorit. Terbayang juga rimbunan daun kopi di Semende, Pagar Alam, Lahat dan beberapa daerah Uluan di Sumsel. Hasil kerja keras petani itu ada di sini, di Pojok Tembesu dalam bentuk lainnya. Mengedukasi melalui café, penggabungan kebiasaan Bepance (bincang-bincang masyarakat di daerah Uluan Sumsel) masyarakat dengan nilai-nilai positif dari sekedar ngobrol.