Feature
Edukasi Kopi di Pojok Tembesu
- Yenrizal
- 21 Oct 2021
- dilihat 293
ilustrasi
Sebuah mobil minibus memasuki parkiran. Beberapa anak muda keluar dari mobil dan langsung memilih lokasi nongkrong. Sepertinya mereka mahasiswa. Cengkerama mereka terdengar riuh rendah sambil menunggu pesanan dihidangkan. “Mahasiswa sering kesini pak, bahkan mungkin mahasiswanya pak Yen, ya kayak gitu, kumpul-kumpul, kadang ngerjain tugas,” ujar pak Iwan. Café ini buka sampai jam 10 malam. Bisa dipastikan kalau malam akan lebih ramai. Dari sebelah belakang café tampak kubah mushalla, sepertinya ini jadi fasilitas jika pengunjung ingin sholat.
Dari daftar menu saya membaca beberapa tawaran. Beberapa sudah cukup akrab bagi saya, Americano, Ekspresso, Cappucino, dan sebagainya. Dari harga cukup kompetitif. Tapi ada menu yang cukup asing, Remangi. Rupanya ini adalah menu andalan bagi café ini. Pak Iwan lantas menawarkan jika ingin mencoba. Remangi adalah menu kopi yang diciptakan sendiri oleh baristanya, tidak ada ditempat lain. Aroma rempah-rempah cukup kuat, berpadu dengan khas bau kopi lokal. Uniknya ini disajikan dalam bentuk dingin menggunakan batu es. Segar….plong sekali ditenggorokan. “Ini khas kami dan sudah terbukti,” kata pak Iwan berpromosi. Saya tanya campurannya apa saja, pak Iwan hanya tertawa. Eh, saya keceplosan, rahasia dapur tak etis untuk ditanyakan. Tapi satu kata penting yang saya rekam, menciptakan menu baru adalah bagian dari edukasi, melatih kreatifitas.
Obrolan kamipun memanjang, pak Iwan sangat terobsesi sekali untuk melakukan edukasi masyarakat dengan suguhan kopi. Kopi bukan sekedar minuman saja, tapi ada sisi lain yang bisa ditawarkan. Pria yang juga seorang eksekutif di sebuah perusahaan swasta ini tampak begitu optimis. “Kita adalah masyarakat kopi pak, sejak dari dulu. Banyaknya café-café seperti sekarang sebetulnya menunjukkan bahwa kita mampu berdiri dengan potensi sendiri, sekaligus buka peluang usaha bagi masyarakat. Yang penting adalah keberanian dan kreatifitas,” tegasnya. Ia kembali bicara soal edukasi.
Dari meja barista tampak dua orang karyawan sibuk mengolah kopi. Semua karyawan ada 4 orang. Mereka adalah tenaga muda yang sudah disiapkan. Kreatifitas merekalah yang kemudian difasilitasi oleh pak Iwan. “Banyak ide dari anak muda itu, tapi mereka kadang terbentur saat eksekusi, nah kita masuk dan fasilitasi,” ujarnya.
Palembang - Clouds



0 Komentar