Feature
Edukasi Kopi di Pojok Tembesu
- Yenrizal
- 21 Oct 2021
- dilihat 293
ilustrasi
Tawaran menarik sang kolega itu sulit untuk ditolak. Setelah seharian berkutat dengan rutinitas di kantor, Ngopi Sore bisa jadi pelepas penat. Ia menawarkan sebuah tempat, sebuah café (atau tepatnya warung kopi) yang selama ini pernah disampaikan. Katanya asyik, nyaman dan asri. Biasanya yang namanya warung kopi suguhan utamanya ya Kopinya. Tapi ia hanya berkata, “lokasinya enak, nyantailah.”
Sesuai peta pada google map, saya sepertinya sangat familiar dengan daerah tersebut. Dekat rumah saya kok.
Kantor Dinas Kehutanan Sumatera Selatan adalah merek yang terpampang di depan, daerah Km 7 Palembang. Sebelum berbelok ke dalam komplek, sebuah merek kecil berbentuk lingkaran dengan latar putih dan hitam sudah jadi petunjuk. Pojok Tembesu, kesitulah mobil diarahkan.
Komplek perkantoran Dinas Kehutanan ini memang asri. Mungkin sesuai dengan namanya, banyak pepohonan, apalagi posisinya berbatasan langsung dengan Hutan Wisata Punti Kayu, kawasan hutan kota terbesar (mungkin se Indonesia hanya disini ada hutan dalam kota). Sesekali beberapa monyet dari Punti Kayu tampak berlompatan dari beberapa pohon, kadang ada juga yang berjalan ke parkiran mobil. Tempat yang adem memang, apalagi untuk Palembang yang bercuaca panas.
Cafe itu berada tepat ditengah perkantoran. Dari tampilannya sudah bisa dipastikan ini adalah cafe-cafe gaul, tempat nongkrong, yang sekarang sedang booming di wilayah perkotaan. Tiga meja kayu dan kursi-kursi yang berbahan dasar kayu tampak di bagian depan. Dinding cafe (merangkap sisi interiornya) juga berbahan dasar kayu, di cat cokelat, mirip warna kayu, untuk lebih menonjolkan sisi orisinalitas. Sebuah kolam kecil tampak di sisi kiri, sesekali gemericik air terdengar. Cukup luas untuk ukuran café nongkrong. Sebetulnya saya cukup sering ke cafe-cafe seperti ini, sekedar numpang ngetik dan minum kopi. Tapi untuk yang satu ini agak berbeda. Pertama karena memang lokasinya adem dan nyaman, kedua, tidak bising karena tidak berada di pinggir jalan, dan suasana alam juga begitu kental.
Iwan Setiawan, penggagas Edukasi di Warung Kopi
“Haloo Pak Yen, sini…” suara Pak Iwan sambil melambaikan tangan. Saya membalasnya sambil menutup pintu mobil. Rupanya ia sudah menunggu dari tadi. Pak Iwan adalah pemilik cafe yang memang sengaja mengundang saya untuk ngobrol-ngobrol sore.
“Tempatnya adem pak Iwan, asyik ini,” ujarku sambil menggeser bangku. Pak Iwan hanya tertawa sumringah. Ia lantas menawarkan kopi apa yang aku senangi. “Kopi hitam, itu kesukaanku,” ujarku. Tak lama, bunyi grkrkrkrk terdengar dari balik meja Barista, oh rupanya meracik dulu dan menggiling biji kopinya.
“Kopi kami disini memang digiling langsung baru kemudian disuguhkan. Kalau bapak mau lihat, bisa saksikan langsung,” ujar pria berusia 50-an tahun ini. Ia memulai cerita bahwa sebetulnya kenikmatan minum kopi itu ada pada racikannya, dan yang paling menyegarkan adalah kopi biji yang langsung digiling. “Kalau kopi bubuk, biasanya hanya bertahan 3 bulan, setelah itu tinggal pahitnya saja,” katanya. Pak Iwan rupanya punya obsesi untuk merubah tradisi minum kopi bubuk ke kopi biji. Tentu tidak mudah ujarnya, karena itu perlu edukasi. Kata menarik, edukasi.
Di dinding dalam café ini tampak beberapa bungkus kopi yang sudah dikemas sedemikian rupa, beberapa snack kecil, serta beberapa buku. Merek Kopi Nusantara terlihat menonjol. Rupanya ini adalah merek yang sengaja dibuat oleh Pak Iwan. Isinya adalah biji kopi, bukan kopi bubuk. Ini yang katanya tadi, edukasi penggunaan kopi biji. Walaupun untuk jenis bubuk juga disediakan.
Café ini rupanya memiliki ruang pamer. Konsep café ini memang menggabungkan kebiasaan minum kopi dengan bersantai. Dengan demikian, jika pengunjung ingin berlama-lama sembari membaca buku juga dibolehkan. “Kalau pak Yen ada buku, boleh juga di taroh disini, kita pamerkan,” kata pak Iwan. Saya tersenyum sambil membolak-balik beberapa buku. Umumnya buku bertema kehutanan. “Sepertinya jangan buku berat semua pak, kalau ada buku-buku ringan juga bisa,” ujarku memberi saran. Mungkin ini terkait dengan mengajak orang agar kembali gemar membaca buku, sebuah edukasi yang baik.
Cerita pak Iwanpun meluncur. Café ini baru dibuka Februari 2021 lalu, bertepatan dengan masa pandemi sedang hebohnya. Keputusan yang beresiko sebetulnya, karena UMKM jenis ini banyak yang terkena dampak PPKM dari pemerintah. Pak Iwan saat itu terus jalan karena memang ada dukungan dari Litbang KLHK. Ia bekerjasama dengan lembaga tersebut, deal-dealan dan jadilah café ini. “Cukup berat diawalnya, tapi itu sudah resiko, kita jalan terus dan alhamdulilah sudah bisa sampai ke tahap ini,”ujarnya sembari berkata bahwa sekarang ini laba bersih kelihatan. Belum BEP (break event point), tapi sudah lumayan. Ia menyebut beberapa angka keuntungan perbulan dan itu sudah bisa menutupi operasional.
Komunitas Sepeda di Pojok Tembesu
“Saya itu pecinta kopi dan suka kumpul-kumpul pak. Hobi sebetulnya, jadi ya menikmati sekali,” jelasnya sambil tertawa lebar.
Sebuah mobil minibus memasuki parkiran. Beberapa anak muda keluar dari mobil dan langsung memilih lokasi nongkrong. Sepertinya mereka mahasiswa. Cengkerama mereka terdengar riuh rendah sambil menunggu pesanan dihidangkan. “Mahasiswa sering kesini pak, bahkan mungkin mahasiswanya pak Yen, ya kayak gitu, kumpul-kumpul, kadang ngerjain tugas,” ujar pak Iwan. Café ini buka sampai jam 10 malam. Bisa dipastikan kalau malam akan lebih ramai. Dari sebelah belakang café tampak kubah mushalla, sepertinya ini jadi fasilitas jika pengunjung ingin sholat.
Dari daftar menu saya membaca beberapa tawaran. Beberapa sudah cukup akrab bagi saya, Americano, Ekspresso, Cappucino, dan sebagainya. Dari harga cukup kompetitif. Tapi ada menu yang cukup asing, Remangi. Rupanya ini adalah menu andalan bagi café ini. Pak Iwan lantas menawarkan jika ingin mencoba. Remangi adalah menu kopi yang diciptakan sendiri oleh baristanya, tidak ada ditempat lain. Aroma rempah-rempah cukup kuat, berpadu dengan khas bau kopi lokal. Uniknya ini disajikan dalam bentuk dingin menggunakan batu es. Segar….plong sekali ditenggorokan. “Ini khas kami dan sudah terbukti,” kata pak Iwan berpromosi. Saya tanya campurannya apa saja, pak Iwan hanya tertawa. Eh, saya keceplosan, rahasia dapur tak etis untuk ditanyakan. Tapi satu kata penting yang saya rekam, menciptakan menu baru adalah bagian dari edukasi, melatih kreatifitas.
Obrolan kamipun memanjang, pak Iwan sangat terobsesi sekali untuk melakukan edukasi masyarakat dengan suguhan kopi. Kopi bukan sekedar minuman saja, tapi ada sisi lain yang bisa ditawarkan. Pria yang juga seorang eksekutif di sebuah perusahaan swasta ini tampak begitu optimis. “Kita adalah masyarakat kopi pak, sejak dari dulu. Banyaknya café-café seperti sekarang sebetulnya menunjukkan bahwa kita mampu berdiri dengan potensi sendiri, sekaligus buka peluang usaha bagi masyarakat. Yang penting adalah keberanian dan kreatifitas,” tegasnya. Ia kembali bicara soal edukasi.
Dari meja barista tampak dua orang karyawan sibuk mengolah kopi. Semua karyawan ada 4 orang. Mereka adalah tenaga muda yang sudah disiapkan. Kreatifitas merekalah yang kemudian difasilitasi oleh pak Iwan. “Banyak ide dari anak muda itu, tapi mereka kadang terbentur saat eksekusi, nah kita masuk dan fasilitasi,” ujarnya.
Lantunan musik lembut mengiringi obrolan. Nama Pojok Tembesu terpampang cukup artistik. Nama yang mengingatkan saya pada salah satu jenis pohon yang tumbuh di Sumsel, kayu yang sudah dikenal sejak zaman kesultanan dulu, kayu yang kuat, namun juga sudah hampir punah. Agaknya pilihan nama ini adalah bagian dari “mengingatkan” generasi muda pada kejayaan kayu di Sumsel. Bagian edukasi juga.
Rombongan anak muda terus berdatangan, mengisi bangku-bangku kayu yang masih kosong. Agaknya mereka betah karena memang semua tersedia. Ponsel android tak lepas dari tangan mereka, nyambung dengan akses Wifi gratis yang tersedia. Kloplah buat nongkrong berlama-lama.
“Tapi pak Yen, bagi saya minum kopi di café seperti ini bukan sekedar nongkrong. Nongkrong adalah budaya yang sudah tumbuh di Sumsel sejak dulu. Nongkrong adalah sebuah potensi, bukan kerja mubazir. Apa yang bisa kita lakukan? Edukasi, itu intinya. Karena itu, sembari mereka nongkrong, sebetulnya kita sedang mengedukasi mereka dengan gaya mereka sendiri. Ruang pamer, sejarah kopi, kekayaan hutan Indonesia, kekayaan kopi Indonesia, kita suguhkan sesuai versi mereka sendiri,” jelas pak Iwan panjang lebar.
Hampir 2 jam saya menikmati aroma pepohonan yang segar, terkadang diselingi dengan beberapa monyet nakal yang seperti akrab dengan manusia. Ingatan saya melayang pada sejarah kopi di Indonesia, jenis yang dulunya bernama Kahweh, didatangkan dari Timur Tengah dan kemudian menjadi favorit. Terbayang juga rimbunan daun kopi di Semende, Pagar Alam, Lahat dan beberapa daerah Uluan di Sumsel. Hasil kerja keras petani itu ada di sini, di Pojok Tembesu dalam bentuk lainnya. Mengedukasi melalui café, penggabungan kebiasaan Bepance (bincang-bincang masyarakat di daerah Uluan Sumsel) masyarakat dengan nilai-nilai positif dari sekedar ngobrol.
Pak Iwan meneruskan membaca bukunya dan menjelang magrib Pojok Tembesu saya tinggalkan.
Palembang - Clouds



0 Komentar