Feature

Edukasi Kopi di Pojok Tembesu


ilustrasi

“Tempatnya adem pak Iwan, asyik ini,” ujarku sambil menggeser bangku. Pak Iwan hanya tertawa sumringah. Ia lantas menawarkan kopi apa yang aku senangi. “Kopi hitam, itu kesukaanku,” ujarku. Tak lama, bunyi grkrkrkrk terdengar dari balik meja Barista, oh rupanya meracik dulu dan menggiling biji kopinya.

“Kopi kami disini memang digiling langsung baru kemudian disuguhkan. Kalau bapak mau lihat, bisa saksikan langsung,” ujar pria berusia 50-an tahun ini. Ia memulai cerita bahwa sebetulnya kenikmatan minum kopi itu ada pada racikannya, dan yang paling menyegarkan adalah kopi biji yang langsung digiling. “Kalau kopi bubuk, biasanya hanya bertahan 3 bulan, setelah itu tinggal pahitnya saja,” katanya. Pak Iwan rupanya punya obsesi untuk merubah tradisi minum kopi bubuk ke kopi biji. Tentu tidak mudah ujarnya, karena itu perlu edukasi. Kata menarik, edukasi.

Di dinding dalam café ini tampak beberapa bungkus kopi yang sudah dikemas sedemikian rupa, beberapa snack kecil, serta beberapa buku. Merek Kopi Nusantara terlihat menonjol. Rupanya ini adalah merek yang sengaja dibuat oleh Pak Iwan. Isinya adalah biji kopi, bukan kopi bubuk. Ini yang katanya tadi, edukasi penggunaan kopi biji. Walaupun untuk jenis bubuk juga disediakan.

Café ini rupanya memiliki ruang pamer. Konsep café ini memang menggabungkan kebiasaan minum kopi dengan bersantai. Dengan demikian, jika pengunjung ingin berlama-lama sembari membaca buku juga dibolehkan. “Kalau pak Yen ada buku, boleh juga di taroh disini, kita pamerkan,” kata pak Iwan. Saya tersenyum sambil membolak-balik beberapa buku. Umumnya buku bertema kehutanan. “Sepertinya jangan buku berat semua pak, kalau ada buku-buku ringan juga bisa,” ujarku memberi saran. Mungkin ini terkait dengan mengajak orang agar kembali gemar membaca buku, sebuah edukasi yang baik.