Feature

6 Gelas Kopi Sehari


ilustrasi

Singkat cerita perjalanan dilanjutkan setelah hujan reda. Tak lama, di Desa Datar Lebar, sekitar 10 menit dari tempat berteduh pertama, aku harus berteduh lagi. Padahal tujuan aku ke Cahaya Alam hanya tinggal 10 menit perjalanan lagi. Kali ini tempat berteduh adalah semacam warung kelontongan, menjual kebutuhan sehari-hari. Terlihat di etalase yang terbuat dari jalinan kawat di bawah rumah panggung, terpajang untaian shampo sachet, teh sachet, dan sebagainya. Yang duduk disitu adalah seorang ibu-ibu berbadan sedikit gemuk, usianya sekitar 50-an tahun.

Si ibu bernama Siti ini mempersilahkanku duduk dibawah atap warungnya, di atas kursi kayu panjang. Sembari berteduh aku ngobrol lagi dengannya. Tak lama ia ke belakang, dan kembali dengan segelas kopi panas. Kopi ketiga sampai jam 10 pagi ini.

Kembali perjalanan dilanjutkan. Desa Cahaya Alampun sudah didepan mata. Tujuan pertama adalah rumah Kepala Desa. Aku sudah kenal beliau, karena dulu pernah KKN disini dan beliau dulu juga Kepala Desa. Salam-salaman dan bercerita berbagai kenanganpun meluncur. Tak menunggu lama, gelas kopi yang keempat, sudah terhidang pula. Jarum di jam tanganku baru menunjukkan pukul 11.30 WIB. Aku meraba perut dan mencoba merasakan apakah ada gejala yang tidak enak. Alhamdulillah masih kuat dan belum ada tanda-tanda apapun.

Rumah berikutnya yang kudatangi adalah rumah Kak Din. Dia ini adalah kakak angkat bagiku, karena begitu akrabnya waktu KKN dulu. Sumringah sekali ia menyambut, begitu kangen dan hal yang sama juga kurasakan. Karena hari sudah pukul 12.00, ia berujar pada istriya untuk memasak nasi dan menyiapkan makan. Tentu tawaran yang menarik sekali, karena perut sudah keroncongan.