Feature

6 Gelas Kopi Sehari


ilustrasi

Tiba-tiba (sebenarnya sudah kuduga), sang Ayuk muncul kembali ke ruang tamu, membawakan nampan berisi dua gelas kopi. “Ngopi kudai, Yen. Nasi mpai dimasak, lah lame kaba tu dide ngupi di sini” ujarnya. Artinya kira-kira “Ngopi dulu, Yen. Nasi lagi dimasak, sudah lama kamu tu tidak ngopi disini”. Akhirnya, ini gelas kelima sampai siang ini.

Sementara, hidangan nasi panas berasap mulai terjejer dihadapan, sambal teghung Belande, lalap umbut rotan, dan ikan Nila kuah tanpa santan, sudah menitikkan selera. Udara dingin seakan menghentakkan perutku untuk tak menyia-nyiakan kesempatan. Lupa akan kopi, nasi panas itupun ludes.

Aku ngobrol-ngobrol dengan Kak Din. Ternyata ia juga paham soal seluk beluk adat Semende ini. Aku juga dapat kabar bahwa tokoh adat yang akan kutuju sedang tidak dirumah. Ia lagi ke Muara Enim. Akhirnya, dengan Kak Din lah aku tuntaskan semua keperluan data. Sampai pukul 16.00 sore aku masih di tempat Kak Din, hujan juga masih rintik-rintik. Aku pamit karena masih ada keperluan di Desa Pajar Bulan.

Di perjalanan pulang, aku dua kali pula harus berteduh. Hujan sepertinya tidak bersahabat. Satu kali berteduh kembali di rumah warga. Sama seperti tadi, ia tak kukenal, hanya numpang berteduh karena hujan mulai deras. Basa basi sedikit, dan … kopi gelas keenam pun ludes ke tenggorokan.
Saat motor kujalankan, hujan masih rintik-rintik, kutempuh saja, mengingat magrib sudah hampir menjelang. Agas-agas kecil mulai mengganggu mata, sementara udara terasa makin menusuk. Saat hujan makin terasa bulirnya, berteduh harus kulakukan. Tapi sekarang aku harus mencari tempat ”netral”.