Feature

6 Gelas Kopi Sehari


ilustrasi

Jam 8.00 pagi aku berangkat mengendarai motor. Cuaca agak mendung, kata Kak Ipul, bakal hujan nanti ini (aku teringat pedoman pada kabut di bukit Balai dan Bukit Barisan, keterangan mengenai kabut ini ada dalam kisah lain nantinya). Tapi aku jalan terus, sekalian pula ingin mencoba bagaimana bisa mampir ke rumah orang yang tidak dikenal, sekedar untuk berteduh.

Betul saja, baru sekitar 10 menit berjalan, hujan sudah turun, tidak deras namun cukup mengganggu karena udara jadi semakin dingin. Di simpang Desa Muara Tenang, persis di depan musholla yang cukup megah, aku harus berteduh. Ada sebuah rumah dangau, karena posisinya dipinggir sawah di sebelah jalan. Seorang bapak yang sudah cukup tua, tampak duduk di tangga dangaunya, agaknya sedang berteduh sebelum ke sawah lagi. Motor kuparkirkan di bawah dangaunya yang berbentuk panggung tersebut.

“Assalamualaikum ning (kakek), numpang berteduh kudai (sebentar),” teriakku di sela hujan.
“Walaikumsalam, Ao naiklah ke pucok (Ya naiklah ke atas),” sahutnya.

Aku belum kenal kakek itu, karena desa ini memang tidak jadi objek penelitian aku. Tapi aku beranikan diri saja. Kamipun ngobrol dan saling berkenalan. Namanya Rustam, berusia 60 tahun. Sambil ngobrol, ia sudah sibuk memanaskan air dan mengambil gelas. Kopi kedua hari ini.