Artikel

Pengolah Kebun Sayur di Kelekar


Memetik Terong Ungu di Kelekar

Di sudut kebunnya, tampak 3 ekor kambing tertambat di dalam kandang. Putra Jidah yang masih kecil sibuk menyorongkan dedaunan ke mulut kambing-kambing tersebut. “Sambilan berkebun kan bisa ngangon juga, rumput banyak disini. Kalau lebaran Idul Adha nanti kan harganya mahal juga, lumayan buat nambah pendapatan,” ujarnya.

Untuk mengolah kebun sayuran, Jidah dan suaminya harus fokus setiap hari. Oleh sebab itu, rumah sederhanapun dibangun di area kebun. Mereka tinggal disitu dan beraktifitas sehari hari. Bisa dikatakan, apa yang dilakukan keluarga ini, tidak pernah berhenti siklusnya. Tanaman yang ditanampun berselang seling di area yang sama. Jika Terong sudah habis masa produktif, maka Cabe akan masuk pula, kemudian Kacang Panjang, Tomat Cung, dan juga Mentimun.

Dengan cara seperti ini, perawatan dan menjaga kesuburan tanah menjadi sangat penting. Unsur hara tanah harus tetap terjaga sehingga tanaman bisa terus berputar produksinya. Jidah dan suaminya tak punya pilihan lain, pemupukan yang rutin harus dilakukan. Biaya produksi tentu menjadi besar karena harga pupuk dan pestisida lainnya terus meningkat. Melalui sistem paroan biaya produksi ini diselesaikan. Efeknya adalah pada harga jual. Tapi Jidah tak bisa berbuat banyak karena memang tanpa dipupuk, tanamannya akan menghasilkan apa-apa.

Dalam hitungan kasar, untuk lahan seluas 1 ha, kebutuhan pupuk bagi tanah yang sudah dipakai berulang kali, cukup tinggi. Setidaknya dibutuhkan modal sekitar 5 – 8 juta rupiah. Ini belum termasuk pestisida untuk antisipasi hama, yang penyemprotan dilakukan secara rutin. Tetapi bagi petani, solusi harus ada, karena kebun tetap harus diolah. Sistem Paroan adalah solusi. Beban modal dan kebutuhan bisa berbagi dengan pemilik lahan, walau nantinya akan berakibat juga pada hasil yang didapat.