Cerpen

Menembak Ikan


ilustrasi

Dapot do gulaen na Ndi? (Dapatkah ikannya Ndi) ” tanya Nenek. Nenek memang orang Mandahiling, ia kerap pakai bahasa Mandahiling denganku. “Adong Nek, bahat, (Ada nek, banyak)” ujarku sambil membuka keranjang.

Makan siang itu begitu nikmat. Gulai ikan yang masih sangat segar dengan campuran cabe rawit, nasi panas, dan tentu saja Lado Kutu khas Nenek. Dua kali piringku bertambah, sampai akhirnya aku tersender ke tiang dangau. Hembusan angin sawah membuai mataku, berbaur dengan perut yang kekenyangan.

***

“Ayah, dimana ayah dulu katanya menembak Ikan? Disini ya, mana yah, sungai seperti ini mana ada ikannya? Ah ayah pasti bohong ya, dak mungkin disini ada ikannya,” anakku bersungut-sungut saat melihat ke sungai. Sudah beberapa hari ini ia menuntutku supaya mengajak ke sawah Nenek dan ke sungai. Rupanya kisah waktu kecil yang kuceritakan padanya begitu membekas dan membuatnya penasaran.