Cerpen
Menembak Ikan
- Yenrizal
- 19 Nov 2021
- dilihat 222
ilustrasi
Yang dikatakan tembak, juga sebetulnya bukan tembakan seperti menggunakan bedil atau senjata api. Ini adalah alat yang digunakan untuk menangkap ikan, dengan jalan menembaknya. Bentuk alatnya adalah kayu yang dibuat seperti pistol dengan panjang sekitar 40 cm. Sebagai peluru atau penembaknya, dipakailah jari-jari sepeda yang ujungnya sudah dibuat runcing. Di pangkal jari-jari sepeda itu dipasang karet ban dalam sepeda yang berfungsi sebagai pelontar ketika ditarik. Agar jari-jari sepeda itu tidak lepas saat dilontarkan, maka jari-jari itu dipasang tali yang tersambung pada kayu utama pistol. Terkadang di ujung jari-jari sepeda itu kami pasang kait runcing yang dibuat khusus agar ikan tak mudah lepas jika terkena tembakan. Kami menyebutnya Piayik.
Lubuk yang tak terlalu dalam itu terus kurenangi, mataku nanar melihat ke berbagai sisi, mencoba mencari celah-celah cahaya yang terkadang terhalang. Mulut kukatupkan sekuatnya sehingga membentuk gelembung di pipi, menahan napas, sampai akhirnya daya tahan habis dan muncul lagi ke permukaan mencari udara.
Dua kali tarikan napas, aku kembali membenamkan kepala, menyusuri lintangan akar-akar sikalabuak yang berbaur dengan rumput-rumput liar. Bayangan-bayangan hitam, gariang yang bergerak-gerak mulai kelihatan. Satu, dua, tiga, setidaknya ada empat ikan yang berwarna keperakan itu melintas. Mereka sepertinya tidak mengetahui keberadaanku, gerakannya tidak gesit. Besarnya sekitar selebar telapak tangan orang dewasa. Lumayan, pikirku.
Tanganku mulai mengencang memegang tembak kayu, tangan kiri bergantungan pada akar kayu agar tak terlalu tenggelam. Nafasku mulai terasa berat, belum sempat kulepaskan tembakan, aku harus muncul lagi ke permukaan. Dengus nafasku begitu kuat ketika oksigen kusedot kembali. Huff…huff…dengusku.
Palembang - Clouds



0 Komentar