Perumusan masalah pada dasarnya adalah “sub bagian proposal yang berisi pertanyaan-pertanyaan mendasar, dimana pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dalam proses penelitian nantinya”. Dengan ini bisa dilihat bahwa perjalanan penelitian selanjutnya akan tergantung kepada rumusan masalah yang dibuat.
Seringkali, bagi peneliti pemula, timbul kesulitan dalam membuat rumusan masalah ini. Peneliti sering bingung, bagaimana membuat rumusan masalah yang baik. Terkadang, pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan, karena jawaban pertanyaan tersebut sudah harus diketahui peneliti, sebelum melakukan penelitian. Beberapa masalah yang sering terjadi, berdasarkan pengalaman selama membimbing mahasiswa selama ini adalah sebagai berikut :
1. Pertanyaan yang diajukan bersifat jawaban konsep ataupun jawaban teoritis.
Fenomena seperti ini cukup banyak ditemukan. Misalnya, judul penelitian tersebut adalah “Pola Komunikasi Antar Budaya Masyarakat di Kelurahan A”. Ketika membuat perumusan masalah, pertanyaan yang diajukan adalah “Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Antar Budaya?”
Contoh di atas adalah kesalahan fatal. Logikanya, ketika seseorang akan melakukan penelitian tersebut, ia seharusnya sudah memiliki konsep mengenai komunikasi antar budaya, tidak perlu dipertanyakan lagi. Di dalam Kerangka Teori (bagian dari proposal), hal itu sudah seharusnya di bahas. Ingat, pertanyaan dalam perumusan masalah adalah pertanyaan yang akan dijawab/dicarikan jawaban pada saat melakukan penelitian nanti.
2. Pertanyaan yang terlalu luas, tidak konkrit.
Misalnya, judul penelitian tersebut adalah “Pola Komunikasi Antar Budaya Masyarakat di Kelurahan A”. Ketika membuat perumusan masalah, pertanyaan yang diajukan adalah, “Bagaimana Pola Komunikasi Antara Budaya di Kelurahan A?” Pertanyaan seperti ini tidak dianjurkan untuk dibuat. Memang penelitian ini ingin menjawab pertanyaan tersebut, namun ketika membuat rumusan masalah, yang dimunculkan harusnya adalah aspek yang lebih rinci untuk menjelaskan judul tersebut. Misalnya, membuat pertanyaan dengan kalimat, “Bagaimanakah pandangan masyarakat A terhadap budaya B di kelurahan A?”
0 Komentar