Penelitian

Ke Kebun Kopi


ilustrasi

Kami memulai jalan dari arah belakang rumah Pak Bustan. Ternyata di bagian belakang rumah, langsung disambut dengan kerimbunan kebun kopi. Belum terlalu besar, tetapi sudah panen. “Masih kawe mude (masih kopi muda),” kata Pak Bustan. Kebun itu adalah milik tetangganya, punya pak Bustan sendiri masih agak jauh.

Melintasi kebun kopi ini tidak terlalu rumit, karena batangnya belum terlalu tinggi. Barisan kebun kopi ini terlihat teratur dan rapi, jarak antara masing-masing tanaman diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan untuk melintasinya. Di sela-sela batang kopi, aku lihat beberapa pohon Sengon berdiri, dahan dan daunnya kelihatan seperti memayungi tanaman kopi. Di beberapa lokasi aku lihat ada jenis pohon Juar, posisinya sama dengan pohon sengon tadi. Keterangan dari Pak Bustan, pohon itu memang digunakan untuk melindungi kopi dari matahari. Dulunya hanya pakai pohon Juar, sekaranglah baru ada Sengon.

 

Di sepanjang perjalanan, kami sering bertemu warga lain yang juga akan ke kebun. Terkadang juga bertemu warga yang sedang kerja dikebunnya, ada juga yang sedang membelah kayu di dangau. Setiap kali bertemu, selalu Pak Bustan menegur mereka atau mereka yang duluan menegur. Terkadang kami berhenti sejenak, ngobrol menanyakan kondisi kebun dan sebagainya. Tentu juga memperkenalkan aku yang dianggap sebagai orang asing saat itu. Aku hanya mengamati dan sesekali menimpali dengan bercanda. Yang terlintas dipikiran aku adalah gaya bicara yang santai dan selalu dengan intonasi berirama, khas bahasa Semende. Mereka juga terbiasa berbicara apa adanya, dan topiknya bisa apa saja. Ada yang berbicara tentang pupuk, tentang hama, harga kopi, binatang, dan bahkan tentang situasi politik saat itu.