Feature
Memulai Memahami Tanah Semende
- Yenrizal
- 03 Oct 2021
- dilihat 299
ilustrasi
Pagi ini, 25 Agustus 2013. Aku berkunjung ke rumah Kepala Desa Swarna Dwipe, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muara Enim. Namanya Efriyanto. Orangnya masih muda, belum kepala 4, katanya 38 tahun. Ia termasuk generasi muda yang cukup menonjol. Silaturrahmi dulu, mohon izin untuk menetap dan beraktifitas didaerahnya selama beberapa waktu. Sebelumnya aku sudah kenal beliau karena dulu pernah ada kegiatan ke wilayahnya, tidak perlu terlalu kaku dengannya.
Sang Kades sangat antusias menyambutku, senyumnya lebar. Seperti biasa, ia masih tetap seperti penampilannya dulu, pakai peci hitam, berpostur tinggi semampai, kaos oblong, celana panjang, dan tak lupa sebatang rokok yang tak lepas dari mulutnya. Soal rokok ini, hampir semua warga yang aku temui selalu punya kebiasaan sama. Agaknya, cuaca dingin jadi alasan mereka untuk menghangatkan diri dengan kepulan asap rokok. Aku jadi teringat dulu di daerah Tawang Mangu, Jawa Tengah, juga pernah menemukan warga yang hampir semuanya terbiasa merokok dengan alasan cuaca dingin. Biasanya mereka mengisap rokok kretek tanpa filter, lebih hangat katanya. Tapi di Semende ini, justru aku lihat tidak membedakan itu, ada yang pakai filter ada juga yang tidak.
Kades bercerita panjang lebar tentang wilayahnya. Penduduk saat ini mencapai 1.100 jiwa dengan 201 KK. Komposisi laki-laki perempuan hampir sama, 560 perempuan, 540 laki-laki. Dominan pada usia 18-50 tahun yaitu 456 jiwa, berusia 18 tahun sebanyak 359 jiwa dan di atas 50 tahun 285 jiwa. Untuk data ini, Kades mendasarkan diri pada monografi desa yang dibuatnya. Hanya saja dari perbincangan, sepertinya data ini bukanlah jumlah yang pasti karena Kades selalu berkata, “kira-kira”.
Kades juga menerangkan soal batas wilayah, sejarah desa, mata pencaharian, serta kebiasaan warga sehari-hari. Desa ini adalah desa hasil pemekaran dari Desa Rekimai Jaya tahun 2007 lalu. Tetapi mereka sudah mendiami lokasi ini sejak lama, dengan dusun aslinya adalah Matang Paoh. Terdapat dua dusun di desa ini, yaitu Rawis dan Matang Paoh. Sehari-hari masyarakat berkebun kopi dan bertani sawah, dominan adalah kopi, karena wilayah yang dianggap bisa dijadikan sawah hanya sedikit. Pertimbangannya adalah ketersediaan saluran air dan kemiringan tanah.
Palembang - Clouds



0 Komentar