Artikel

Nan Aluih Identitas Pasaman Barat Yang Tergerus


Gerbang masuk Kabupaten Pasaman Barat

Dr. Yenrizal, M.Si (Akademisi Komunikasi Lingkungan UIN Raden Fatah Palembang berasal dari Pasaman Barat)

Pada periode 1990-an ke bawah, sering menjadi perbincangan bahwa di Pasaman banyak “nan Aluih” (yang halus). Jika ada warga Pasaman yang berada di luar daerah, biasanya muncul selorohan, “rang Pasaman ko banyak nan aluih mah (orang Pasaman ini banyak yang halus).” Istilah “nan Aluih” ini merujuk pada stigma bahwa di wilayah Pasaman banyak ilmu-ilmu kebatinan, baik dimaksudkan sebagai “ilmu hitam” ataupun “ilmu putih”.

Mulai dari ilmu palangkahan, sitawa, silek harimau, sampai ke Upeh Racun dan Pamanih, lengkap dengan Tinggam, Sijundai, dan Gasiang Tangkurak, semua dianggap ada di Pasaman. Stereotype seperti ini menjadi umum bagi perantau asal Pasaman saat berada di luar daerah. Karena itu, hati-hati bila bertemu orang Pasaman.

Tidak begitu jelas darimana label itu asal mulanya dilekatkan, ia berkembang begitu saja, walau bukti nyata bahwa orang Pasaman itu memang banyak “nan Aluih”, agak sulit juga dibuktikan. Beberapa orang mungkin memang punya kemampuan itu, lazim sebetulnya, karena memang “kiramaik” (keramat) itu sudah sifatnya manusia, terutama yang mau dan punya garis tangan.

Kalau mau jujur, “nan Aluih” itu tentu bukan hanya miliknya orang Pasaman. Seedaran Minangkabau, dari Darek sampai ka Rantau, tentu punya semua kurenah tersebut. Banyak sekali tokoh-tokoh yang terkenal kesaktiannya, berikut pula dengan segala mitos dan dongeng tentang mereka, dan itu bukan hanya miliknya Pasaman.

Bila ditelusur mungkin munculnya stigma tersebut terkait dengan kondisi daerah kala itu. Pasaman Barat khususnya (saat itu masih menyatu ke Pasaman induk dengan ibukota di Lubuk Sikaping) bisa dikatakan adalah daerah yang terisolir. Sebelum tahun 1980-an bahkan sangat jarang orang mengenal nama-nama Simpang Ampek, Jambak, Pasaman Baru, apalagi sebutan baru seperti Bandarejo dan Sidomulyo.

Orang luar lebih familiar dengan nama Ophir sebagai warisan perkebunan zaman Belanda, Talu, Kinali,  Sasak, Air Bangis, dan Maligi. Talu dikenal karena dulu menjadi pusat pendidikan guru yang ditandai dengan pendirian Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Jorong Bangkok. Sasak-Air Bangis-Maligi dikenal karena memang daerah pesisir pantai yang punya rekam jejak cukup lama. Sementara Kinali justru terkenal karena “nan Aluihnya” kala itu.


Situs Lubang Jepang di Talu. Photo Istimewa

Sebelum 1985, jika ada orang Simpang Ampek yang akan pergi ke Padang, butuh waktu setidaknya 24 jam bahkan lebih. Mereka harus melewati Talu, Panti, Bonjol, Lubuk Sikaping, baru terus ke Bukittinggi dan lanjut ke Padang. Jauhnya akses saat itu menyebabkan Pasaman Barat sangat lekat dengan daerah pelosok, pedalaman, hutan rimba dan banyak binatang buas.

Faktanya memang begitu, Pasaman Barat seolah-olah tak ada di peta. Karena itu, saat sekitar tahun 1984 ada rombongan pejabat berkunjung ke Simpang Ampek, Helikopter terpaksa digunakan. Lapangan bola kaki di Pasaman Baru disulap jadi landasan.

Kedatangan Helikopter kala itu menyebar dari mulut ke mulut, hebohnya melebihi pesona pejabat itu sendiri. Ya maklum saja, terhadap mobil saja tidak semua masyarakat pernah lihat apalagi naik, konon pula menyaksikan Helikopter. Saya yang saat itu masih duduk di bangku kelas 4 SD, menjadi salah seorang yang ikut berlarian mengerumuni “Sipatuang Basi” (capung besi) itu.

Mungkin karena kondisi inilah, predikat Pasaman banyak “nan Aluih” jadi melekat. Ke timur berpagar Gunung Pasaman dan Talamau, ke barat ombak pantai menjadi pembatas, di tengah-tengah hutan rimba dengan segala kekeramatannya begitu rapat dan penuh cerita. Anak-anak terbiasa dengan cerita tentang Cindaku, Sijundai, Inyiak Balang, bahkan tahu dengan istilah Gayuang, Tinggam, Upeh dan sebagainya. Maka lekatlah istilah Pasaman adalah daerah yang keramat, dan harus hati-hati jika bertemu orang setempat apalagi masuk ke daerah itu.

Tahun 1985, Pasaman berubah. Perubahan ditandai dengan dibangunnya jalan raya yang menghubungkan Simpang Ampek tembus ke Simpang Gudang/Manggopoh di Kabupaten Agam. Hampir beriringan dengan dibukanya akses ini, masuk pula para pensiunan ABRI AD melalui skema tranmigrasi. Umumnya mereka berasa dari Pulau Jawa. Keragaman etnis mulai terasa kuat. Jika sebelumnya lebih dominan pada etnis Minangkabau dengan Mandahiling-Batak, maka sekarang Jawa ikut memberi pengaruh, walaupun etnis Jawa juga sudah ada sebelumnya melalui skema transmigrasi di daerah Tongar, Batang Lingkin.

Perkebunan kelapa sawit menjadi sasaran utama yang dikembangkan dan ditandai pula dengan pendirian PTPN VI. Skema PIR dijalankan, dan keberhasilan ini memicu pula warga Pasaman lainnya untuk ramai-ramai bermigrasi ke sawit. Mudahnya akses ke luar daerah (terutama Padang dan Bukittinggi), membuat gerakan ekonomi warga makin lincah dan cepat. Jika dulu 24 jam menuju Padang, sekarang cukup 3 jam saja Kota Padang sudah dicapai.

Terbukalah Pasaman Barat, bergeraklah ia, berlari. Bahkan larinya jauh lebih cepat dari induknya Kabupaten Pasaman yang dipisah sejak 2003.

Sekarang Pasaman Barat bukan lagi daerah pelosok, bukan lagi wilayah yang tak tampak di peta. Wilayah kaki gunung bertanah subur ini tumbuh menjadi sebuah kekuatan ekonomi baru. Hasil bumi melimpah ruah, kelapa sawit jadi andalan, jeruk berayun ranum, padi dan jagung ikut pula meningkahi. Anak-anak mudanyapun berlomba-lomba meneruskan sekolah dan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Tak hanya di Sumbar, bahkan ke pulau Jawa dan sampai ke luar negeri.

Mulai dari pinggang Gunung Pasaman dan Talamau, sampai ke bibir pantai Sasak, Maligi, Aia Bangih hingga sampai ke bukit Gunung Tuleh, hamparan kebun kelapa sawit tampak menghijau. Begitupun dijalan raya yang mulus, lalu lalang truk pengangkut kelapa sawit dan CPO sudah jadi hal biasa.

Rumah-rumah reot berdinding kayu yang dulu banyak ditemukan, sekarang berganti rumah beton nan kokoh. Hilir mudik mobil pribadi bahkan sudah menimbulkan kemacetan. Ekonomi bergerak, kemakmuran sudah terasakan.

Lantas bagaimana dengan Nan Aluih? Akankah stigma itu masih melekat ataukah ia ikut pula pudar seiring dengan para pemilik “nan Aluih” yang mulai sibuk menghitung pitih penjualan sawit?

Lompatan percepatan pembangunan di Pasaman Barat harus diakui sangat cepat. Dalam usianya yang sekarang sudah mencapai 19 tahun sejak pertama kali definitif sebagai kabupaten, berbagai perubahan banyak terjadi. Perkebunan melesat cepat, baik milik penduduk maupun perusahaan berskala menengah dan besar.

Efek dari percepatan pembangunan mau tidak mau menjadikan wilayah Pasaman Barat berkembang menjadi daerah yang dikebut pada sisi modernitas. Jika dulu serba konvensional sekarang beralih ke serba digital, andai dulu memasak dengan kayu api, sekarang kompor gas sudah tersedia, jika dulu mandi cukup berendam ke sungai atau banda, sekarang aliran PDAM sudah mengucur.

Perubahan-perubahan besar tersebut juga kemudian menggerus sisi sosial kemasyarakatan dan beralih ke pola pikir masyarakat. Tak heran jika kemudian BPS mencatatkan angka pengangguran di Pasaman Barat tahun 2021 mencapai 9.979 orang (4,69%).

Bagi saya ini agak mengherankan, karena daerah ini adalah daerah pertanian dan perikanan. Dulu sangat sulit mencari pengangguran karena hutan luas, ladang banyak, lautpun lebar. Selagi masih mau berusaha, mau mengambil lading, cangkul ataupun tajak dan kedong, kerjaan itu ada. Tak punya lahan? Menumpanglah kepada yang punya, bukalah kebun palawija, soal hasil bisa dinegosiasikan. Pengecualian bagi yang malas ataupun mengasumsikan bekerja itu adalah menjadi karyawan atau pegawai.

Ini soal pola pikir. Inilah relevansi “nan Aluih” yang pada saat ini menemukan koneksinya. Bagi saya, konsep “nan Aluih” tak mesti dihilangkan, tapi bisa direvitalisasi dan di branding. “Nan Aluih” pada masanya dulu menjadikan daerah ini sebagai daerah yang disegani bahkan ditakuti untuk dimasuki pendatang. Kehati-hatian harus dijaga karena di sini ada keramat, di sini banyak yang bertuah, disini banyak pantangan dan larangan. Pendek kata, masuk Pasaman anda harus menjaga nan ampek, tahu taratik, karena disini banyak “nan Aluih”.


Sungai Balarangan (Bauduah) di Lubuak Landua). Photo : Istimewa

“Nan Aluih” adalah penjaga, benteng kekuatan bagi masyarakat. Kenapa sekarang tepian dialih orang pendatang, pemandian dialih orang lalu, karena yang ditakuti atau disegani itu telah memudar.

“Nan Aluih” dalam konsep yang lebih kosmologis adalah pertautan antara manusia dengan alam semesta. Ia ada karena filosofis Alam Terkembang Jadi Guru begitu kuat dan mengakar. Ia bisa menjadi positif karena ia bisa menjadi benteng.

Dalam bahasa lain, Pasaman Barat membutuhkan identitas, ciri khas, yang melekat dan berawal dari kekuatan masyarakat itu sendiri, yang bermula dari kesatuan masyarakat dengan alamnya. Sebagai contoh, kenapa sampai sekarang di Pasaman Barat tetap banyak Ikan Bauduah (Ikan Larangan)? Karena masyarakat masih percaya bahwa ada “nan Aluih” yang membatasi dan menjaga itu. Anda tak percaya, cobalah lawan larangan ini, niscaya “nan Aluih” akan menunjukkan kuasanya.

Andai konsep “nan Aluih” masih dipegang teguh, mungkin akan berpikir seribu kali untuk membuka rimba larangan menjadi kebun kelapa sawit, mungkin perusahaan perkebunan akan berpikir ulang untuk merubuhkan hutan, mengeringkan bancah dan sebagainya. Sebaliknya, jika “nan aluih” terus dipudarkan, tuahnya terus digerus, apalagi sampai “Tungkek mambao rabah”, niscaya Pasaman Barat akan kehilangan keramatnya. Pasaman Barat tak ada ubahnya dengan daerah lain, berpacu mengejar modernitas, tapi rapuh pada identitas. Semoga di peringatan HUT ke 19 ini bisa menjadi refleksi bagi semua anak nagari, siapapun itu.